Selasa, 29 Agustus 2017

My First Solo Trip

Sudah sejak lama sekali gue ingin menjajal solo traveling. Benarnya sudah sangat telat di umur gue yang udah 1/3 abad baru melakukan solo trip (karena idealnya menurut gue, memulai solo trip itu di umur twenty something). Tapi gpp lah, better late than never. Salah satu alasan gue telat melakukan solo trip karena keluarga gue nggak pernah memberi izin untuk melakukan solo trip ke gue dengan alasan "GUE CEWEK". Alasan yang sangat diskriminatif dan selalu membuat gue geleng-geleng kepala. Jadi gue terpaksa berbohong (walau gue sangat tidak nyaman dengan berbohong), tapi ada kalanya kita harus sedikit nekad kalau keinginan kita ingin tercapai. Jadi gue terpaksa berbohong dengan bilang gue pergi sama teman gue si Y (yah terpaksa gue bawa-bawa nama dia demi izin solo trip gue). 

Jadi ceritanya, sudah sejak setahun lalu gue memasukkan solo trip dalam wish list gue. Selain karena penasaran, gue selalu merasa nggak pernah puas kalau jalan-jalan bareng keluarga. Banyak tempat yang gue mau pergi tapi nggak bisa karena beberapa kendala kalau pergi sama keluarga. Jadi kebebasan adalah salah satu alasan utama gue untuk melakukan solo trip. Gue bisa bebas pergi kemana saja dan berlama-lama di suatu tempat tanpa ada yang mengeluh karena merasa bosan atau minta cepat-cepat (ini gue ngomongin nyokap sih).

Dan untuk menunjang semangat merdeka dan mandiri, gue pun memilih tanggal 17 Agustus sebagai hari gue solo trip. Kebetulan 17 Agustus tahun ini jatuh di hari Kamis yang membuat Jumat menjadi hari kejepit di mana gue bisa ambil cuti. Untuk solo trip pertama gue, gue putuskan mencoba yang dekat dulu seperti Bandung. Dan selama ini gue nggak pernah puas menikmati Bandung, karena pergi sama keluarga biasanya pakai mobil pribadi dan lebih terasa lama di jalan entah karena macet atau orang yang terlalu ramai. Pergi sama teman gue terakhir terlalu cepat karena cuma 1 malam 2 hari dan temen gue pilih hotel yang lokasinya jauh dari pusat kota.  

Alasan lain solo trip adalah gue pengen merasakan naik kereta api. Terakhir gue naik kereta itu umur 7 atau 8 tahun yang sekarang udah samar-samar dalam ingatan gue. Alasan nggak penting lainnya adalah pengen mencoba ransel trolly yang sudah gue beli (ini sih alasannya ngga penting banget).

Seminggu sebelum solo trip ada kalanya gue masih kepikiran untuk ngajak nyokap, karena merasa kasihan melihat nyokap tampak bosan dan sering bilang pengen jalan-jalan, sayang keuangan nggak bagus. Tapi kalau nyokap jalan-jalan, pasti bokap gue ngoceh dulu ke nyokap karena keluar biaya lagi dan berbuntut malah gak diizinkan, karena mata pencaharian lagi sepi (girls, inilah salah satu alasan mengapa gue selalu merekomendasikan cewek untuk tetap bekerja setelah menikah). 

Selain itu, kalau gue jalan-jalan sama nyokap, yang ada gue malah bukan menikmati trip itu sendiri, malah jadi "babysitter" nyokap dan ngurusin ego nyokap. Karena nyokap gue ini paling takut ditinggal sendirian. Sementara fisiknya nggak kuat lagi untuk berjalan jauh dan yang ada gue bakal temenin nyokap doank di hotel. Kalau pun pergi ke tempat wisata, nyokap paling tunggu di mana gitu yang ada kursi dan belum sempet gue puas melihat-lihat gue bakal ditelepon suruh cepet balik. Belum menghadapi segudang keluhannya kalau menyangkut makanan. Dan kalau gue trip sama nyokap mau gak mau gue jadi menurunkan standar trip gue karena harus menyesuaikan dengan standar nyokap. 

Kedengarannya gue seperti anak nggak berbakti ya? Masalahnya nyokap ini juga bukan tipe yang kenal dengan dirinya sendiri. Dan pada dasarnya bukan hal yang salah juga untuk melakukan solo trip selama elu bisa menjaga diri dan meriset tempat yang akan elu kunjungi cukup aman buat diri elu. Selain itu hubungan gue sama nyokap (termasuk bokap dan adik gue) itu disfungsional. Dan akan tetap begitu selama ortu gue menganggap gue properti mereka dan selalu menghakimi segala tindakan gue tanpa sekalipun coba memahami gue.

Terkadang gue iri sama hubungan / bonding anak-ortu yang dimiliki orang lain. Mungkin emang benar kalau gue kurang sayang sama ortu gue, karena mereka pun nggak pernah berusaha untuk membuat bonding hubungan ortu-anak. Bokap lebih seperti penyedia karena pencari nafkah dan nyokap lebih seperti tukang masak di rumah. Tapi nggak bisa salahkan mereka juga, kedua ortu gue dari generasi lama atau baby boomers yang kurang paham affection (nyokap gue selalu merasa aneh melihat para ortu sekarang yang suka menciumi & memeluk anak-anak mereka). Kondisi ini diperparah karena mereka pun ngga open minded terhadap perubahan atau mencari tahu bagaimana menjadi orang tua yang bisa disayang oleh anak-anaknya selain menjadi penyedia sandang, pangan dan papan saja. 

Back to solo trip. Sejak gue berangkat dari rumah, gue beneran 100% solo, karena biasanya bokap suka mau antar kalau ada anggota keluarga yang berpergian. Tapi pas 17 Agustus pagi jam 7 (kereta api gue jam 8.45) bokap lagi nggak ada di rumah, jadilah gue pesan grab yang untungnya sedang ada promo potongan ongkos 15.000 rupiah. jadi lumayan banget, ongkos gue ke gambir dari 35.000 cuma bayar 20.000 (tapi gue kasih supirnya 25.000). Sampai Gambir, masih ada waktu 1 jam lebih sebelum kereta berangkat, gue sempet terpikir untuk makan dahulu di banyak resto di stasiun namun gue malah bingung mau sarapan apa dan akhirnya gue cuma membeli Rotiboy sebelum gue memutuskan pergi ke bagian pemeriksaan tiket. Beruntung teman kantor gue berencana liburan ke Yogya, jadi malam sebelum berangkat gue titip dia untuk print eticket gue menjadi boarding pass. Jadi boarding pass ini yang digunakan oleh petugas untuk memeriksa tiket kita sebelum naik ke kereta.

Ada sedikit insiden di awal perjalanan gue, di mana gue salah gerbong. Jadi selama hampir 1 jam perjalanan setelah tiba di stasiun Bekasi, gue baru sadar kalau gue duduk di gerbong yang salah. Jadi harusnya gerbong 2, gue malah duduk di gerbong 1, itu pun ketahuan karena ada penumpang baru dari Bekasi yang gue duduki kursinya datang. Tapi tidak ada masalah, karena orangnya baik dan malah memberitahu gue kalau gue harusnya ada di gerbong belakang, jadi yah sudah gue angkat tas gue (yang akhirnya gagal berfungsi sebagai ransel dan lebih bersifat koper) dan pindah ke kursi di mana seharusnya gue duduk.

Dari sini perjalanan lancar hingga gue tiba di stasiun Bandung pada jam 12 (tepat 3 jam dari Jkt-Bandung). Dibanding Gambir, stasiun Bandung ini termasuk kecil. Keluar dari kereta, gue langsung menuju pintu keluar dan memesan gocar untuk pergi ke Subwow Hostel. Meski ada kata hostel, namun Subwow ini lebih bertipe hotel, karena kamar mandi dan kamar tidurnya privat dan tidak sharing sebagaimana hostel. Tapi kamarnya sendiri memang sangat kecil dan khusus diperuntukkan untuk single traveler macam gue. Menurut gue sih ini cocok disebut juga sebagai hotel semi kapsul.

Sampai di hotel, botol aqua gue sudah habis dan seperti yang gue duga, tidak ada free drink dalam kamar hotel gue yang mungil. Gue agak nyesel kenapa nggak beli 1 di minimarket stasiun karena gue sangat haus. Setelah gue merapikan koper dan mengambil beberapa barang yang bakal gue butuhkan di jalan, gue langsung keluar hotel. Tujuan pertama gue adalah mencari alfamart atau Indomaret untuk sekedar membeli air minum :D

Untungnya, kurang lebih 100 meter dari hotel gue ketemu Alfamart dan langsung saja gue beli sebotol air mineral ukuran 600 mili. Perut gue yang dari pagi cuma diisi roti terus bernyanyi lapar. Gue sudah tau makan di mana. Restoran pertama gue di Bandung adalah Warung Imah Babaturan, yang untungnya letaknya nggak jauh dari hotel tempat gue menginap. Ongkos gojeknya hanya seharga Rp 6000 dari alamat hotel ke sana. Gue dapat rekomendasi warung ini dari situs www.pergidulu.com

Warung Imah Babaturan

Abang gojeknya sempat bertanya sebentar ke orang lain untuk alamat warung ini, namun tidak sulit cari warungnya karena letaknya masih di jalan raya. Warung  Imah tidak besar, kecil namun juga tidak sempit. Interiornya sederhana saja, mirip dengan interior rumahan. Ada 2 bagian tempat makan, yaitu AC dan non AC. Gue sih pilih yang AC secara waktu itu Bandung lagi panas. Kursi dan meja di warung ini lucu karena agak mini. Gue suka meja kayunya yang seperti banyak tumpahan cat (bakal cakep kalau jadi alas foto).

Menu di warung ini juga berbeda-beda setiap harinya. Tergantung mbaknya masak apa. Hari ini ada menu tongseng kambing (jelas gue skip), ayam geprek dan nasi bakar. Awalnya gue mau pilih ayam geprek seharga Rp 25.000 yang sudah termasuk nasi, tapi akhirnya gue menjatuhkan pilihan pada nasi bakar yang menawarkan paket yang lebih variatif berupa nasi bakar jamur, teri, telur puyuh ditambah ayam goreng, tahu, tempe & sambal dengan harga Rp 30.000.

Untuk minum gue pesan es kopi ala Vietnamnya dan cemilan sorenya yaitu tape goreng. (cemilan Jabar banget). Kopi gue dibawain duluan, penampakannya seperti ini:


Jujur gue baru kali ini cobain es kopi susu ala Vietnam, secara gue bukan peminum kopi dan ternyata enak. Tunggu hidangan utamanya agak sedikit lama, gue rasa kurang lebih 15 menit sampai nasi bakar itu terhidang di meja gue.


Dan rasanya enak (mungkin karena gue juga lapar). Yang gue suka adalah ayam gorengnya yang ayam kampung (karena ayamnya kecil). Selain itu sambalnya pedas tapi bikin segar, karena sambalnya nggak digoreng jadi nggak berminyak, khas Sunda banget deh.

Selesai makan, gue membuat perut makin penuh dengan cemilan sore yaitu tape goreng. Kesan gue soal warung (kedai) ini rekomenlah. Andai ke Bandung lagi, gue pasti bakal mampir lagi ke sini. Makanannya enak dan cocok dengan lidah gue, harganya juga nggak terlalu mahal. Tape gorengnya itu isi 3 cuma Rp 6000. Es kopi ala Vietnam RP 15.000 dan total gue makan RP 51.000 sudah kenyang banget.

Dari segi tempat sih biasa aja (baca: bukan untuk foto-foto cantik atau istilah kekiniannya instagramable). Namun cukup nyaman (mungkin karena pas gue pergi jumlah pengunjungnya sedikit). Ruang makannya ada 2 bagian, yaitu AC (bagian dalam) dan non AC (teras depan).



Setelah perut kenyang, tujuan gue selanjutnya adalah Ciwalk alias Cihampelas Walk. Jaraknya nggak terlalu jauh dari Warkop Imah dan karena habis makan, gue putuskan untuk berjalan kaki dengan bantuan goggle maps (sekalian bakar kalori setelah berakus ria).

Cihampelas Walk

Salah satu hal yang gue suka dari solo trip adalah banyak jalan kaki (gue bukan tipe yang malas jalan kaki selama areanya nyaman untuk pejalan kaki alias aman). Menuju ke Ciwalk, gue banyak melewati area kampung atau perumahan padat penduduk yang masuk gang-gang (sesuatu yang yang gak mungkin gue lakukan kalau gue naik mobil). Tiba di Ciwalk sudah sekitar jam 15.30 dan dari sini gue pun menyusuri teras Cihampelas yang ngepop itu. Karena ramai, banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sini. Gue rasa mungkin akan lebih bagus seandainya gue pergi pas malam hari. Tapi yah sudahlah, yang penting gue udah jalan di terasnya itu.

Gue bukan tipe yang suka area crowded, bagi gue Ciwalk oke tapi sangat turis dengan banyaknya toko-toko suvenir dan oleh-oleh.

Gue sengaja pakai baju merah putih karena menyesuaikan tema 17 Agustus, hehehe


Selesai berselfie ria di Ciwalk, gue masih galau untuk tujuan selanjutnya mau kemana. Tadinya mau ke Warkop Modjok, tapi gue khawatir jaraknya jauh dan gue juga masih kenyang kalau harus makan lagi. Sempat mampir ke toko tas Elizabeth di Cihampelas tapi syukurlah gue bisa menahan diri nggak beli apa-apa meski nggak enak juga sama mbaknya yang semangat menawarkan banyak barang.

Akhirnya gue putuskan untuk pergi ke Riau Junction buat mencoba Koyuki Charcoal Ice Cream. Riau Junction ini sejenis mal kecil. Lantai 1 adalah supermarket Yogya (Supermarket Yogya di sini termasuk yang besar dan lengkap), lantai 2-3 adalah department store dan lt. 4 adalah food court. Awalnya gue pikir counter es krimnya ada di food court, namun setelah keliling-keliling nggak ketemu dan setelah gue cek lagi di gugel ternyata ada di bawah dekat depan kasir supermarket.


Bentuknya menarik tapi rasanya menurut gue kurang enak. Rasanya sangat milky sekali, seperti es krim yang ada di resto-resto fast food (KFC, AW, Burger King), malah masih lebih enak rasa es krim di resto-resto tersebut. Pantas harganya murah, cuma Rp 10.000 dan porsinya cukup banyak.

Selesai makan es krim, gue iseng mencoba Pizza yang ada di resto Magic Kitchen di lantai dasar Riau Junction karena promonya menggiurkan, Ro 27.000 dapat 2 personal pan pizza dan toppingnya bisa kita pilih sendiri.


Tapi gue rada nyesel sih karena serakah beli sampai 2 pizza, karena makan 1 pizza saja sudah kenyang banget. Alhasil, pizza 1 gue nggak habis. Selesai makan, langit sudah gelap karenanya gue putuskan untuk balik hotel. Awalnya sempat terpikir mau jalan kaki saja dari Riau junction ke hotel tapi setelah mencoba dan melihat harus lewat beberapa area yang rada gelap, nyali gue ciut dan langsung gue pesan gojek.

BTW, nyokap sempat WA dan tanya apa gue bener-bener pergi berdua sama teman gue si Y, karena dia ngira gue bohong kayak ade gue waktu solo trip ke Nepal. Jantung gue langsung deg2an karena biar bagaimana pun gue ini termasuk yang jarang sekali berbohong, namun gue juga nggak mau dibuat cemas takut kena omel karena bohong atau nyokap cemas karena gue sendirian. Jadi gue pun bersandiwara dengan bilang, gue beneran pergi sama temen gue si Y, untung nyokap percaya walau dalam hati gue sungguh merasa sangat berdosa karena harus bohong. Tapi mau bagaimana lagi, nggak semua keluarga permisif sama solo trip. Yang bikin nggak enak tuh gue merasa berdosa sama Tuhan karena terpaksa borbohong.

Sampai hotel, gue langsung mandi dan sebelum tidur, gue searching dulu hal-hal apa lagi yang menarik di Bandung.

Lembang

Hari kedua, gue berencana ke Lembang. Benarnya gue galau antara Lembang atau Tebing Keraton duluan. Akhirnya gue putuskan Lembang karena lebih jauh dan hari kedua ini waktu gue full dibanding hari pertama dan ketiga. Itu pun gue bangun sudah agak siang dan jam 7 gue sarapan dulu di hostel.

Sarapannya berat karena full karbo :)

Selesai sarapan, kira-kira jam 8, gue keluar  hostel. Namun alih-alih langsung pesan gojek, gue putuskan naik angkot dulu menuju stasiun Dago. Sampai stasiun Dago, banyak ojek pangkalan yang menanyakan gue mau ke mana? Iseng-iseng gue tanya dengan salah satu abangnya berapa ongkos ke Farm House? Si abang buka harga Rp 70.000 yang tentunya langsung gue bilang, gue nggak jadi ke sana. Karena sebelumnya gue sudah cek di app Gojek, ongkos dari stasiun Dago ke Lembang hanya 17.000. Akhirnya gue pun pesan ojek online tersebut. Namun demi keamanan, abang gojek minta gue supaya naiknya jangan dari stasiun (karena banyak ojek pangkalan) dan jalan beberapa blok ke minimarket Alfamart.

Abang gojeknya ramah dan sepanjang jalan banyak menjelaskan sama gue mengenai tempat-tempat wisata di Lembang. Gue sempat mampir ke planetarium Boscha karena tempatnya dekat dan searah dengan Farmhouse, namun apes karena planetarium untuk pengunjung perorangan hanya dibuka pada weekend saja (sementara gue ke sana hari Jumat). Yah sudah lanjut ke Farmhouse yang cuma berjarak 5 menit dari Planetarium.

Farmhouse Lembang

Abang gojeknya bersedia tunggu sampai gue puas di Farmhouse dan gue pikir gpp lah karena gue takut susah juga dapat gojek online di Lembang (yang ternyata nggak susah, karena Farmhouse itu masih Lembang dekat Bandung kota).

Masuk ke Farmhouse harus beli tiket seharga Rp 25.000. Tiket ini nantinya bisa ditukarkan sama susu dengan pilihan rasa plain, strawbery dan coklat. Meski hari Jumat, tgl 18 bukan tanggal merah, banyak bus yang mengangkut rombongan ke Farmhouse. Di pintu masuk, gue pun menukarkan tiket gue dengan susu strawbery.



Kegiatan gue di Farmhouse cuma seputar selfie-selfie saja. Karena Farmhouse ini punya banyak sekali spot foto yang bagus. Andai kata gue ngga solo trip, mungkin gue bakal coba untuk meminjam kostum Noni Belanda untuk foto-foto cantik. Karena kostum ini bukan cuma khusus foto studio saja, boleh dipakai sambil keliling keliling Famhouse. Ini beberapa hasil kenarsisan gue selama di Farmhouse yang sukses bikin gue lupa waktu:



Yang ini minta foto sama orang, tangan gue pegang tongsis






Belakang gue itu rumah hobbit


Hahaha, foto-foto gue bikin eneg yah. Tapi jujur gue nyaman-nyaman saja jadi banci selfie selama solo trip karena ngga bakal ada yang komentarin. Hehehe.

Favorit gue di Farmhouse adalah petting atau mengelus domba, karena gue nggak ada pet di rumah jadi gue menyalurkan hasrat mengelus-elus hewan di Farmhouse, hehehe.

Jam sudah mau jam 12 siang, perut gue sudah keroncongan. Selain itu gue juga nggak enak kalau sampai abang gojeknya tunggu gue kelamaan. Gue berhasil menahan diri nggak jajan apa pun selama di Farmhouse. Sempat kepikiran mau beli selai karamel, untung otak gue  kasih tau kalau rasanya mirip-mirip sama susu kental manis, selain dari harganya yang mahal, RP 55.000 untuk ukuran toples kecil.

Meski perut gue lapar, gue juga menahan diri nggak makan di restoran yang ada di Famhouse, karena tujuan gue berikutnya adalah Warkop Modjok. Jadi lebih baik gue makan di sana saja sekalian.

Akhirnya gue WA abang gojeknya untuk jemput gue di Farmhouse dan minta dia antar gue ke warkop Modjok yang jaraknya lumayan jauh juga dari Lembang. Karena abangnya sempet ngeluh jauh, gue janji akan lebihin (BTW, gw nggak pakai app gojek di sini). Dari Farmhouse ke Warkop Modjok, gue kasih si Abang Rp 40.000, rada mahal jatuhnya, tapi ngga enak juga kalau kasih 30 ribu ke bawah karena gue udah minta abangnya tungguin.

Warkop Modjok

Warkop Modjok adalah sebuah kafe bertema outdoor yang berlokasi di Perumahan Pondok Hijau Indah, Jl. Pinus Raya no. 73B. Tema outdoor yang gue maksud  adalah dekorasi ala taman di halaman belakang rumah. Jujur, gue suka sama dekorasi Warkop Modjok ini dan gue beruntung pas datang lagi sepi, cuma ada 2 atau 3 kelompok pengunjung, jadi mau selfie-selfie serakah juga nggak ada yang peduli (baca: ngeliatin), hehehe.

Dari depan tampak seperti rumah-rumah sub-urban yang ada di film-film barat

Dari dalam temanya rustic/usang
Gue tiba, kurang lebih jam satu-an. Tidak banyak pelayan di cafe ini, hanya ada 2 mas-mas yang berjaga di counter. Gue sempat bingung mau pesan apa dan biasa saat gue bingung dengan menu di restoran, maka gue akan bertanya menu rekomendasi atau best sellernya. Salah satu pelayan mengatakan menu yang sering dipesan adalah "spanish rice" yang merupakan nama fancy dari nasi goreng. Untuk minunan, karena gue merasa masuk angin, gue ingin minuman hangat, jadi gue pesan lime tea hangat. Total harga makanan yang gue pesan Rp 47.000.

Lime teanya cukup enak dan banyak pula porsinya.


Untuk makanan, spanish rice rasanya rada kurang enak kalau menurut gue. Nasi gorengnya terlalu oily atau banyak minyak, tapi gue berusaha menghabiskan nasi gorengnya hingga 3/4 karena gue lapar dan sayang kalau udah pesan trus nggak dimakan cuma karena kurang enak. Andai kata nyokap, gue yakin cuma makan 2 suap pasti udah dibuang.


Selesai makan, gue puasin selfie-selfie ria di sini. BTW, warkop ini beneran cantik karena samping gue makan ada sungai bersih yang bunyi airnya bergemericik dengan tenang (sayang gue nggak foto sungainya). Tamannya banyak bunga-bunga hidup yang membuat banyak kupu-kupu berterbangan di sekitar sana. Gue bahkan sempat memotret 2 kupu-kupu cantik. Kalau untuk makanan memang rada kurang, tapi gue hanya mencoba 1 menu, bisa jadi menu lain rasanya enak.





Lihat backgroundnya, itu sungai


Persis di luar negeri yah, hihihi





Ini minta pelayannya foto


Jadi apakah gue akan datang lagi ke warkop Modjok? oh, tentu saja. Karena gue bahkan belum sempat mencoba kopi di sini. Dan seperti yang gue tulis di atas, hanya karena 1 makanan kurang sesuai selera gue, bukan berarti makanan lain nggak enak. Selain itu gue suka sama tempatnya yang tenang (karena gue datang jam 1 ke-atas di hari kerja jadi nggak ramai) dan asri. Karena di Jakarta sulit menemukan tempat outdoor bertema garden yang asri (baca: banyak bunga hidup, kupu-kupu dan aliran sungai). Gue puas berselfie ria hingga 14.30.

Dari warkop Modjok, gue balik ke pusat kota Bandung.

Pusat Kota Bandung

Gue kembali menggunakan jasa transportasi ojek online. Ongkos dari warkop Modjok ke gedung sate RP 12.000 tapi karena jaraknya yang cukup jauh, gue memberi tips lebih ke abang gojeknya.

Yah, sebenarnya ngga ada yang terlalu spesial di pusat kota kalau menurut gue. Secara sama sumpek, ramai dan penuh seperti kota tua di Jakarta. Namun selama beberapa kali ke Bandung, nggak pernah sekalipun gue foto di depan gedung sate yang merupakan icon kota Bandung.



Gue sempat berjalan-jalan sebenar di sekitar lapangan Gasibu sambil numpang ke toilet. Tapi gue putuskan untuk segera cabut ke tempat lain. Jadi kembali gue gunakan jasa ojek online dan menuju Braga City Walk. Braga daerah yang mirip Kota Tua di Jakarta dan sangat ramai. Baik pejalan kaki maupun mobil yang berlalu lalang. Dari Braga, gue berjalan kaki selama 1 jam lebih menyusuri alun-alun kota, museum Asia Afrika hingga area pasar baru yang semuanya super crowded (sebagai introvert jelas gue merasa cepat lelah) dan somehow melihat terlalu banyak orang, entah mengapa gue juga merasa kurang aman. Jadi saat matahari sudah tampak akan tenggelam, gue putuskan untuk kembali ke daerah jalan Riau. Kali ini gue nggak naik ojek online tapi angkot yang berdesak-desakkan dengan banyak orang.

Es krim rasa mangga yang gue temui di Braga street ini cukup enak. 1 scoop RP 10.0000



Sebelum balik ke hotel, gue putuskan untuk belanja dulu di supermarket Yogya Riau Junction. Supermarket Yogya juga ada di Jakarta sih dan yang paling dekat sama rumah gue itu supermarket Yogya di Mal Mangga Dua, cuma menurut gue produknya nggak selengkap dan sebagus di supermarket Yogya Riau Junction (BTW, gue termasuk yang suka wisata grocery store, kalau lagi ada di luar kota).  Selesai belanja, gue tidak langsung balik ke hotel, tetapi duduk lama di food court sambil main game. Meski lapar, tapi pilihan makanan di food court Riau Junction kurang menarik minat gue untuk membeli makanan di sana. Jam 7 malam, gue kembali pesan gojek dan minta diantar ke hotel. Enaknya hotel gue ini, banyak tukang makanan di sekitarnya (samping kanan, kiri, seberang ada tukang makanan, baik yang model cafe & bar, fine dining, family resto sampai warung). Gue makan di warung taichan tepat di samping subwow hostel.  Mau pesan nasi goreng, tapi siang baru makan nasgor di warkop Modjok, akhirnya gue pesan mie goreng taichan.


Overall, mie goreng taichan ini Indomie goreng yang ditambah sambal taichan yang terkenal pedas itu dengan tambahan 2 sate taichan dan keripik kentang. Rasanya enak juga, harganya nggak mahal, 25 ribu rupiah saja. Selesai makan, gue pun kembali ke kamar hotel gue yang sunyi senyap dan remang-remang.


Karena, besok adalah hari terakhir dan sore gue sudah harus ada di stasiun, gue sempat galau bagaimana menghabiskan pagi dan siang gue. Sempat terpikir mau ke tebing keraton, tapi di satu sisi malas juga kalau ke tebing cuma untuk foto-foto pemandangan doang. Setelah gue gugling lagi, akhirnya gue tau mau kemana sebelum pulang.

Hari ketiga: Belanja oleh-oleh, Cafe D'Pakar dan pulang. 

Satu lagi yang gue suka dari hostel gue adalah tempatnya dekat dengan toko kue Primarasa (Jl. Kamuning, no.20), cukup jalan kaki 5 menit dari hostel. Di Bandung, pusat oleh-oleh untuk makanan yang terkenal adalah Kartika Sari, Primarasa, dan Mayasari. Dari 3 nama itu, paling populer adalah Kartika Sari namun paling enak menurut gue adalah Primarasa.

Sekitar jam 9, setelah mandi, sarapan dan beberes, gue memutuskan ke Primarasa. Toko kue Primarasa ini selalu ramai, andai gue kalap, duit bisa habis cuma untuk belanja oleh-oleh di Primarasa. Selesai belanja oleh-oleh, gue memutuskan untuk final packing. Jam 10.30 gue check out hostel, sambil menitipkan ransel koper gue ke resepsionis yang akan gue ambil sekitar pukul 14.00 sore.

Dari hostel, gue langsung order gojek ke cafe D'Pakar yang terletak di Dago Atas. Letaknya agak terpencil dan mendekati areanya, gue bantu memandu driver gojeknya dengan GPS. Mendekati cafe D'Pakar, jalanannya rusak lumayan parah, untungnya nggak terlalu banyak. Bayangkan gue naik motor dengan jalanan menanjak yang lumayan curam plus rusak pula.

Cafe D'Pakar

Dari pintu masuk yang penampilannya menipu (karena mirip masuk ke perkampungan), gue membayar voucer sebesar Rp 25.000 yang nantinya voucher ini bisa digunakan untuk membeli makanan dan minuman di cafe.

Namun saat gue masuk ke dalam, ternyata suasananya berbeda dan gue langsung tersenyum senang.




Cafe mempunyai pemandangan yang langsung menghadap tebing. Berhubung gue masih kenyang akibat sarapan berat di hostel, gue cuma memesan es coklat oreo dan cireng bumbu rujak. Total makanan dan minuman Rp 35.000, dan gue hanya perlu menambah Rp 10.000, karena 25.000 berasal dari voucher.













Satu hal yang gue suka dari cafe D'Pakar ini adalah suasananya yang tenang, sejuk dengan suara serangga seperti jangkrik dan kicauan burung yang membuat gue seolah berada di hutan.  Gue pasti akan balik lagi ke sini suatu saat bersama teman atau keluarga, karena cafe ini lebih cocok beramai-ramai.

Sekitar jam 1 siang, gue putuskan balik ke hostel gue untuk mengambil titipan koper ransel gue. BTW, gue juga minta driver gojek untuk menunggu, karena areanya yang cukup terpencil, gue khawatir susah dapat ojek online, sedangkan jam 4, kereta gue akan berangkat.

Sampai hostel kurang lebih jam 14.00, masih ada waktu 1 jam sebelum cabut ke stasiun, perut gue kali ini beneran lapar, sempat terpikir mau makan di warkop Imah lagi, tapi setelah gue pikir-pikir, waktunya rada tanggung (dan gue berencana mau mencoba makan di gerbong restorasi di kereta) akhirnya gue cuma keliling-keliling bentar area hotel dan menunggu di lobby dan jam 3 kurang, gue sudah pesan gocar untuk ke stasiun.

Gue tiba rada awal di stasiun, sempat membeli brownies gulung untuk oleh-oleh teman kantor dan jam 3 lewat gue sudah duduk manis di kereta.


Setelah kereta tiba di stasiun Gambir, gue kembali memesan grab car untuk mengantar gue pulang ke rumah. Gue puas dengan solo trip gue walau lelah dan esok harinya gue tepar.

Kesimpulan gue mengenai solo traveling gue:

1. Ransel trolly nggak praktis. Ransel gue akhirnya lebih berfungsi sebagai koper daripada ransel. Berat trolly+roda itu menambah berat ransel doang (tanpa isi) nyaris menjadi 4 kg. Sebenarnya sih nggak masalah juga, anggap aja kita bawa koper. Cuma karena bawa ransel model trolly, gue jadi ngga bisa pakai ojek motor dari stasiun ke hotel/rumah dan sebaliknya, karena terlalu besar. Istilahnya menambah biaya, karena ojek mobil lebih mahal daripada ojek motor. Selain itu saat di gerbong kereta juga jadi berat angkat ranselnya ke tempat penyimpanan barang yang berada di atas tempat duduk. (Gue beruntung, karena dibantu oleh penumpang cowok waktu naikin dan dibantu oleh petugas waktu turunin). Pokoknya kurang praktis kalau cuma liburan sebentar.

2. Buatlah itinerary yang jelas. Ini cuma saran saja supaya ngga berantakan pas liburan. Tapi kadang ada juga yang mau liburan untuk tersesat, hehehe. Gue sendiri ngga buat itinerary, tapi gue buat list tempat-tempat apa saja yang mau gue kunjungi, macam Terrace Ciwalk, Farmhouse, Warkop Modjok dan Warkop Imah. Cuma Cafe D'Pakar saja yang improvisasi.

3. Transportasi online sangat membantu. Di era serba digital dan sosial media ini, aplikasi taxi online itu terasa banget kegunaannya. Nyaris 90% perjalanan gue di Bandung pakai jasa gojek. Driver gojek di Bandung juga ramah-ramah, misal selalu nyapa di SMS dengan kalimat, "Teteh, ini tunggu di mana?" dan mereka juga bersedia apabila kita minta untuk menunggu di area-area yang jarang ada transportasi umum. Walau tentunya kita membayar offline yang berarti harganya sedikit tinggi. Namun gue pribadi gak masalah, karena gue lebih suka beramal kepada mereka yang bekerja dan berusaha dibanding tukang minta-minta gak jelas.

4. Bandung itu kecil dibanding Jakarta. Ini semua orang sudah pada tau tapi setelah gue rasakan sendiri sangat terlihat bedanya. Paling terlihat perbandingannya pada tarif aplikasi ojek online. Bandung kota ke Lembang itu cuma 20 ribuan, masih lebih mahal tarif Sunter - Taman Anggrek.

5. Tongsis dan power bank itu benda wajib (selain dompet dan HP) yang harus dibawa kalau solo trip. Tongsis gue sendiri hanya tongsis mini seukuran genggam tangan gue.




6. Kesimpulan gue sendiri mengenai solo traveling adalah kebebasan dan kesendirian. Gue senang karena gue bebas tanpa khawatir akan ego orang lain. Adakah rasa sepi? Ada, saat malam dan balik ke kamar hotel gue yang kecil dan remang-remang. Walau gue pikir rasa sepi gue lebih karena suasana remang-remang dan hostel gue terletak di basement (atasnya adalah hotel bintang 4, Grand Tebu). Gue pribadi lebih suka kamar hotel yang terang benderang.

Kesan mengenai Subwow hostel: Overall sih oke. Hostel ini cocok buat loner dan introvert yang suka ketenangan karena kamarnya privat dan nggak perlu berbagi dengan orang lain. Di satu sisi terasa sangat individual, karena tidak ada interaksi antar tamu. Keluhan gue cuma di masalah selimut saja yang terlalu tipis dan bisa bikin masuk angin, kalau mau selimut tambahan, harus bayar Rp 130.000 yang biayanya lebih mahal daripada biaya menginap per malamnya. Gue sudah tahu kalau nggak ada toiletries macam handuk, sikat gigi, sabun, itu gpp. Namun gue harap pihak hostel memberi free 1 botol air mineral. Untuk sarapan, rasanya enak dan sangat mengenyangkan karena full karbohidrat.

Gue tetap berencana suatu saat akan solo trip lagi, mungkin tahun depan. Jogja-Solo sepertinya menyenangkan. Dan pengen mencoba hostel yang shared room atau airBnB sekalian. Solo trip itu rasanya seperti berpetualang untuk gue.