Kamis, 01 Juni 2017

Tolong berhenti turut campur akan hidup anak-anakmu

Gue nulis postingan ini karena gue lagi kesel. Bukan hal bijaksana sebenarnya menulis blog saat lagi emosional. Tapi gue juga khawatir kalau gue udah lebih tenang, yang ada gue malah malas nulisnya.

Jadi gini, seperti yang kebanyakan anak-anak dari para generasi  baby boomers alami mengenai status single/nikah yang suka jadi momok. Tau sendirilah para ortu baby boomers sebagian besar cita-citanya cuma mau melihat anak-anaknya nikah atau menikahkan anak. 

Padahal nikah itu bukan perkara gampang seperti membalik telapak tangan. Apalagi jaman makin maju, tuntutan juga makin tinggi. Dan sekarang beberapa orang sudah sadar kalau menikah itu bukan lagi satu-satunya tujuan hidup. Tapi karena kita bicara soal baby boomers apalagi nyokap gue yang emang menolak berpikiran progresif, maka gue mau curhat.

Nyokap gue itu impian utama hidupnya adalah nikahin anak-anaknya dan otomatis ini bikin kebahagiaan dia bergantung sama anak-anaknya. Apalagi nyokap ngga punya teman dan ngga punya kegiatan. Sejak nikah sama bokap gue, hidupnya ibu rumah tangga full time. Dunianya hanya antara bokap gue dan anak-anak. 

Nyokap seperti kebanyakan ortu dalam budaya timur, beranggapan anak adalah investasi alih-alih titipan Tuhan. Ada anak itu supaya nanti saat dia sudah tua ada yang merawat. Sejujurnya gue nggak happy saat menulis ini, karena ada kesan gue nggak bersyukur atas orang tua gue.  Dan senjata nyokap, kalau anak-anaknya berontak atau marah adalah, "Elu anak durhaka." Dia terus memainkan kartu ini. 

Oke, sekarang balik ke pokok utama yang mau gue ceritakan. Nyokap tiap kali ada acara-acara keluarga (yang boleh terbilang jarang di keluarga besar gue) salah satu topik yang dia minta sama saudara atau kenalan saudara gue adalah, "Carin jodoh buat anak gue donk, si Lina."

Nah kadang dia minta ini sama saudara yang baru dikenal. (Ehem, gue merasa aneh saat nulis kalimat ini, "saudara tapi baru kenal"). Yah seperti yang gue bilang, kalau keluarga gue jarang ikut kegiatan-kegiatan di keluarga besar (baca keluarga jauh). Kadang ikut kalau memang diajak atau diundang. Pernah nyokap gue minta jodoh ke saudara jauh yang baru dikenal dan saudara jauh ini bilang, "Oke, kalau ada nanti dikenalin". Awalnya gue pikir cuma basa basi, secara baru kenal, emangnya tau selera gue, apalagi ini yang minta nyokap, bukan gue. 

Setelah beberapa lama, nih saudara jauh ini ada whatsapps gue dan kasih tau, gue tertarik ngga, sama orang Manado, duda anak dua tapi orangnya baik, trus dikasih fotonya juga. Well, "duda anak dua" aja udah langsung bikin gue bilang, " No, thank you." Dan itu dia masih ngotot bilang, "Tapi dia baik, Lin. Saya kenal langsung sama orangnya. Bla, bla dan terakhir ada kasih nasehat, "Soalnya di umur kamu yang udah ngga muda lagi, cowok yang baik kebanyakan sudah pada diambil. Lagian cowok yang single kebanyakan itu nggak baik." Bahasa gampangnya, "Udah tua, pilihan terbatas atau jangan pilih-pilih deh, inget umur. Ketemu yang baik aja udah sukur, duda anak dua juga gpp." (Itu yang terakhir, kalimat kesimpulan gue). 

Untungnya, dalam hal ini nyokap gue juga gak setuju sama duda. Apalagi yang sudah ada anak 2, masih kecil-kecil pula. Karena kalau kayak githu yang ada dalam pikiran gue, nikah supaya ada baby sitter untuk urusin anak plus ada tambahan urusan ranjang juga secara legal. Jujur sih, waktu nulis ini, gue jadi pengen buat blog dengan tema, "Nikah sama yang sudah berstatus duda/janda." Tapi ini akan gue bahas kapan-kapan. 

Dari dulu, gue merasa meminta jodoh sama orang yang baru dikenal (saudara sekali pun) bukan hal yang bijaksana. Mungkin kalau jaman dulu wajar, bahkan ada pengantin yang baru tau wajah istri/suaminya saat malam pertama. Tapi balik lagi, ini kan tentang gue yang hidup di era sekarang (2017 saat gue nulis ini postingan). Dan seandainya gue yang dibalik, dimintain tolong untuk menjodohkan orang lain, gue mungkin bakal tanya syarat-syarat yang dia mau. tapi gue pribadi nggak nyaman kalau harus menjodohkan orang yang gue kagak kenal. Karena biasanya kalau pun gue ditanya sama orang yang baru gue kenal, syarat-syarat apa yang gue mau untuk jodoh gue, gak akan gue jawab panjang kali lebar. Yang ada nanti kesannya gue ngelunjak :D

Apalagi, kalau gue kasih tau, ngga mau punya cowok yang mysoginist, mungkin ini prasyarat yang sangat susah, mengingat kacaunya budaya patriarki kita yang menempatkan cewek sebagai warga kelas 2. Eniwei, batal dengan saudara jauh yang baru dikenal. Kali ini ada saudara lain yang mau kenalin gue (beda orang yah). 

Jadi, 2 tahun yang lalu waktu temenin sepupu gue sangjit (seserahan), nyokap gue lagi-lagi meminta jodoh sama saudara. Kali ini minta sama keluarga istri dari sepupu gue. Dan kebetulan istri dari sepupu gue ini bilang dia ada Kokoh yang juga masih single. Gue sih udah pasrah (karena posisi gue serba salah, kalau nolak dibilang gak tau diri, kalau kasih kemungkinannya bakal gak enak kalau gak cocok) jadi gue kasih saja nomor HP gue.

Selama itu pula gak ada kabar. Tahu-tahu minggu lalu, istri sepupu gue tanya lagi, apa gue mau dikenalin sama Kokohnya. Jujur sih secara pribadi gue udah malas untuk menjajal relationship via perjodohan. Tapi yah, seperti yang gue bilang, gue dalam posisi serba salah. Nolak ntar dilabel ngelunjak, kalau oke tapi sering sesudahnya hubungan nyokap gue sama saudara yang lain awkward. 

Singkat cerita, gue ternyata ngga nyambung sama si cowok (kokohnya dari istri sepupu gue). Jadi yah, untuk temanan aja gak nyambung, boro-boro suka. Dan nyokap emang pada awalnya udah ngga setuju karena masih kenal alias saudara (iya, dia yang minta trus dia juga yang nyesel). 

Nah pada dasarnya, gue nggak pernah setuju nyokap minta-minta jodoh sama saudara yang baru dikenal. Karena meski saudara, di mata gue tetep jatuhnya orang asing, memang mereka tau kalau gue suka yang kayak gimana? Apa yang menurut mereka baik belum tentu baik untuk gue. 

Ortu gue bukan tipe ortu dengan level acceptance yang baik. BTW, sebelum pada mengira yang aneh-aneh-aneh, maksud gue dari acceptance itu bukan LGBT yah. Gue normal, namun gue bukan orang yang ngebet nikah, karena jujur, urus diri gue sendiri aja gue belum 100% becus dan gue suka kebebasan single yang cukup bertanggung jawab pada diri sendiri (dan mungkin ortu). 

Dan balik ke judul postingan gue, cuma pengingat kalau anak itu suatu waktu akan pergi, jangan mengharapkan kebahagiaan dari anak, Mereka individu terpisah bukan properti. Satu lagi, nyokap selalu protes akan sikap gue yang judes, yang bikin cowok-cowok takut sama gue. Mungkin cuma @travelpisces seorang yang gue follow di twitter yang berkata sifat judes gue itu baik. Padahal gue selalu merasa sifat judes gue ini adalah ekspresi kemarahan gue akan lingkungan sosial & keluarga yang banyak bersikap nggak adil sama gue. Pada dasarnya gue orangnya sangat gampang diajak kerjasama dan kompromi selama gak ada pihak yang dirugikan. 

Selasa, 14 Maret 2017

Picky & Galau

Judul  "Picky & Galau" yang ada dalam postingan blog gue kali ini terinspirasi dari twits salah satu seorang pengguna twitter yang gue follow.

Jadi ada dalam salah satu rangkaian twitsnya yang menceritakan kisah cewek-cewek berumur antara 30-40 tahun yang galau dan picky soal jodoh. Bahasa ejekannya adalah cewek-cewek perawan tua. Mereka ini galau karena belum dapat jodoh juga meski usia mereka sudah sangat "matang" yang diakibatkan terlalu picky/pemilih dalam memilih jodohnya. 

Kebanyakan cewek-cewek itu maunya dapat jodoh cowok yang ganteng, tajir, baik, setia. Sementara, tau sendiri umur mereka ini boleh dibilang sudah termasuk kategori umur yang kalau untuk cewek itu tergolong mendekati (maaf) menopouse. Dan apa ada (normalnya, karena kita hidup dalam budaya patriarki) cowok kaya, ganteng, baik hati yang mau sama cewek-cewek yang masuk kategori perawan tua?

Jadi kenyataan menyakitkannya, cewek-cewek itu seharusnya "tau diri" dalam soal pilihan jodoh karena dilihat dari keadaan mereka, pilihan mereka sangat terbatas. Bahkan ada ungkapan kasarnya yang bilang, "Cewek kalau udah tua, dan mau dapat jodoh, nggak usah pilih-pilihlah. Masih untung ada yang mau," 

Istilah kasarnya, "Barang gak laku, udah bagus ada yang mau beli."

Dan (pengakuan menyakitkan), gue salah satu dari cewek-cewek yang udah masuk label perawan tua di society negara kita ini. Dan benar, gue merasa galau dan benar juga kalau gue picky soal jodoh. 

Galau

Tapi galau gue di sini bukan galau masalah jodoh (meski ada kalanya kepikiran juga, tapi bukan top priority) Galau gue di sini lebih galau ke persoalan duit. Alias umur sudah tinggal menghitung tahun mendekati kepala 4, tapi kok kondisi finansial gue menyedihkan amat. Hidup gue masih "disetir" sana sini karena gue masih numpang tinggal sama ortu gue. Bahkan gue nggak berdaya kalau ade gue udah mulai ancam ini itu. Jujur, saat nulis ini dan teringat hal itu, gue merasa depresi. 

Sekarang, ditilik dari segi karir. Gue termasuk orang yang gak punya karir. Meski bukan pengangguran, jenis pekerjaan yang gue jalani sekarang ngga akan pernah mencukupi kehidupan di Jakarta. Selain itu pekerjaan kantoran gue juga bukan jenis yang membanggakan, karena cuma administrasi, termasuk jenis pekerjaan yang melelahkan pula karena gue harus terus berkutat di depan komputer selama 8-9 jam gue kerja. Gaji kecil dan lingkungan kantornya  (menurut gue) juga kurang menyenangkan (mungkin karena banyak cewek, jadi rada deramah). Hanya kemalasan gue-lah dalam mengupdate CV dan mencari pekerjaan baru yang bikin gue masih bertahan bekerja di kantor tersebut. Mengingat, kantor juga tidak memberikan jaminan apa pun dalam hal kesehatan dan pensiun. #curhat

Gue kadang iri sama mereka yang bisa bekerja flexibel atau berwirausaha. Pengen sekali gue merasakan kerja di mana gue bisa menentukan sebagian besar keputusan dalam setiap pekerjaaan gue. Tapi bahkan kalau pun seandainya ada dermawan baik hati yang memberikan gue modal usaha, gue juga bingung mau usaha apa (loser amat sih gue). Walau paling dekat, gue mungkin akan buka toko kosmetik (karena secara pribadi, gue selalu suka melihat display make-up/skin care di department store) atau ATK atau sembako (kalau ini lebih karena barang kebutuhan).

Meski suka makan, jujur gue gak yakin bisa kalau urusan buka toko yang berhubungan sama makanan, macam restoran. Karena makanan itu, gue cuma suka makannya, tapi malas/ogah dengan keribetan persiapan masaknya atau pun masak itu sendiri (I cannot cook either). Walau saat gue nulis ini, gue juga dapat ide kalau, makanan juga bisa laku kok, asal bukanya jangan di mal kalau untuk pemula. Coba buka di area kantoran di mana yang jualan makanan masih jarang, ada kemungkinan laku (pengalaman pribadi). 

Mengapa gak coba mengerjakan sesuatu yang sesuai passion?

Sekali lagi, gue bahkan gak yakin apa passion gue, Karena gue ini tipe orang yang bosenan dan susah konsisten. Contohnya gak usah jauh-jauh, toh urusan baca dan blog aja gue tergantung mood. Bahkan mau nulis cerita saja, malasnya minta ampun, padahal ide sudah ada. Tapi kembali lagi ke eksekusi. Karena sebagus apa pun ide dan rencana namun hanya sebuah pepesan kosong tanpa eksekusi.

Picky

Oke, sekarang ke masalah jodoh. Wajar gak sih cewek yang gak laku itu masih pilih-pilih jodoh? Karena berapa sering, gue dibilangin seperti ini, "Udah Lin, jangan pilih-pilih lagi. Kalau sudah ada yang mau langsung jalanin aja, Trus pacaran jangan lama-lama."

Kita di Indonesia hidup dalam lingkungan sosial yang menuntut standar normal macam: kuliah, kerja, nikah dan punya anak. Untuk pembahasan gue kali ini, akan gue khususkan di 2 terakhir, yaitu nikah dan punya anak.

Ada kalanya gue merutuk lingkungan sosial ketimuran kita yang menempatkan cewek sebagai masyarakat kelas 2 di bawah cowok. Iya, gue tau adat patriarki emang susah diubah. Cewek di Indonesia, kalau gak nikah, dianggap nggak normal seperti difabel. Kalau sudah nikah dan punya anak baru bisa dianggap normal. Kadang gue bertanya siapa yang menentukan standar normal seperti ini? Generasi baby boomers? Padahal menikah menurut gue bukanlah keharusan, tapi lebih ke pilihan. It's not about mandatory but choice. Hanya karena pilihan kita berbeda dengan kebanyakan, lantas kita tidak normal?

Gue dibesarkan oleh nyokap yang selalu berkata, gue harus nikah dan punya anak, supaya ada yang merawat gue saat tua nanti. Jadi anak dan suami adalah investasi kalau dari perspektif nyokap gue. Makanya setiap kali gue udah mulai menimpali sesuatu tentang kisah anak-anak yang gak mau merawat ortunya atau pernikahan yang gagal, nyokap selalu ketar ketir bahwa gue akan punya pikiran nggak mau nikah.

Tapi gue coba membuka perspektif lain, mungkin nyokap begini karena gue bukan hanya medioker, tapi gue juga loser. kalau saja gue sukses secara financial, mungkin nyokap juga gak akan ribut-ribut urusan nikah. Bukan bermaksud materialistis, tapi akui saja dengan uang, kenyamanan bisa di dapat. Gue tidak menulis apa pun bisa dibeli dengan uang, hanya kenyamanan. Dalam hal ini, seandainya gue kaya raya, gue ngga perlu khawatir siapa yang tua bakal urus gue, karena gue bisa sewa perawat dan hidup nyaman berkecukupan. Malah kalau ditambah unsur kemanusiaan, gue mungkin akan bangun panti jompo yang bagus dengan tenaga-tenaga profesional dan yang tua-tua selain bisa nyaman juga bisa dapat teman seumuran.

Tapi karena gue bahkan hidup masih ditopang ortu, wajar kalau ortu cemas, siapa yang bakal jaga gue nanti kalau mereka udah gak ada. Dan dalam pikiran nyokap gue, pilihannya hanya nikah, karena emang nyokap masuk generasi baby boomers di mana cewek dianggap ngga bisa mandiri dan butuh suami serta anak untuk bertahan hidup. Gue inget dia pernah curhat sekali ke gue, waktu dia masih muda dan belum ketemu bokap, dia membayangkan seandainya dia gak nikah, paling dia cuma numpang hidup sama saudara dan jadi "pembantu" mereka alih-alih pikiran untuk mandiri.

Salah satu faktor lain kenapa gue ngga ngebet amat sama urusan jodoh, adalah melihat hubungan ortu gue aja, udah bikin gue mikir panjang soal pernikahan. Pastor gue sendiri pun berbicara, nikah itu bukan tentang mencari kebahagiaan, sebaliknya nikah itu justru untuk memberi kebahagiaan. Karena kalau mencari kebahagiaan yang ada malah tuntutan yang akan bikin kita kecewa. Yah, mungkin karena sebagian besar diri gue masih egois, gue belum kepikiran untuk bisa menjalin hubungan sama orang.

Yang terakhir mungkin karena gue introvert, jadi gue menikmati kesendirian. Karena seorang introverts, sangat menghargai personal space. Namun bukan berarti introvert ngga mau companionship. Asal ketemu orang yang klik mereka justru senang dengan companionship kok.

Oke, balik ke soal picky. Menurut gue memilih pasangan hidup itu memang HARUS picky, berapa pun umur kita. Karena pasangan hidup tidak bisa disamakan seperti memilih pekerjaan. Seseorang bebas berganti pekerjaan kalau ada yang lebih baik. Tapi pasangan hidup, pilihannya 2, stick with him/her forever atau cerai.

Tentu orang normal, ingin pilihan pertama alias pernikahan seumur hidup. Namun kita tidak pernah tau kendala apa saja yang bakal kita temui dalam pernikahan kita. Dan berapa kali kita dengar cerita, bahwa pacaran berbeda dengan menikah. Bahkan pacaran cukup lama tidak menjamin kita akan mengenal pasangan kita 100%, karena itu lah menikah bukan hanya sekedar menuntut tapi juga memberi.

Gue pribadi nggak menuntut pasangan yang ganteng dan mapan, gue tau diri dengan kondisi gue yang jauh dari menarik, belum lagi faktor U. Tapi nggak salah juga kan kalau gue pengen cowok yang peduli sama gue. Peduli sama gue dalam arti dia mau mencoba melengkapi kekurangan-kekurangan gue dan juga sebaliknya, karena gue bisa membantu melengkapi kekurangan-kekurangan dia. Ngga harus mapan, cukup seimbang dengan gue lah, Dalam artian ada pekerjaan, dan setuju untuk tinggal terpisah dari ortu sesudah menikah, apakah punya rumah sendiri atau ngontrak, terkecuali ortunya hanya 1 dan tidak mampu mengurus diri sendiri.

Kalau dipikir-pikir, ini juga tuntutan ya. Tapi tuntutan gue khususnya yang ke-2 mungkin karena gue melihat banyaknya salah satu masalah rumah tangga akibat campur tangan orang tua terhadap pernikahan anaknya. Tapi bagaimana pun gue flexibel, kalau (puji syukur) mertua gue orang yang baik hati dan bijaksana, justru bisa dijadikan teman bicara juga kalau tinggal serumah, walau persentasenya jarang yang seperti ini.

Intinya, I just want a nice right guy with good attitude. Rich & handsome only bonus. 

Senin, 09 Januari 2017

Berbicara mengenai OTP (One True Pairing) fiksi

If there is one genre of novel that I do not like, I would answer romance. But my answer is not entirely true. because in fact I enjoy the love story. Part of me always felt I was a hopeless romantic . The truth is like this, because I really liked love story or the called romance, the story must suit with my taste. So in this case, I actually talk about preferences. And I happened to read romance novel that not suit with my taste and end up I'm not enjoying it and I become dislike romance in general. 

Someone taste & preference always change & it's normal because humans are dynamic. My tastes in terms of romance has changed. In the past, the early twenties, I like lilting romance like Harlequin novels. The story of romance that many scenes focus on the physical attraction and sexual tension. There are also times I love romance story full of angst ( but now, I prefer story where the angst level have been reduced), and do not forget the passionate romance and sweet romance. All those elements are the reasons why many people love romance so much because it plays the emotional side of human being.

Surprisingly, the older I through, my preference of romance also change. Nowadays, I like the subtle romance stories (disguised). I once heard a quote, "When the age is getting older, the passion / desire will be reduced and sex is no longer the focus of a relationship, otherwise the emotions and the soul will be mutually seek each other out." In other words, when physical activity is lost, the couple will want s spouse that act not only as companion but also a soulmate who have the same vision for friendly chatting and share many thoughts. 

Okay, off topic, the initial intention about my post  should be talk about my OTP. So over the past few months I lost interest in reading because I watch anime. And anime that I have watched & followed is Dragon Ball Super. What? You mean that Dragon Ball ? That popular anime about fighting? Which are supposed for the boys?

Yeah, that's Dragon Ball. Dragon Ball is a very popular among shonen anime and manga fans. Usually people tend to be "surprised" if there is a girl like to watch shonen anime. But Dragon Ball itself has long been popular among children heirdom. Both girls and boys are like it. And in my opinion, the older you get, girls prefer shonen than shoujo anime. Because story in the shonen anime more general & mainstream so it can accept by many people despite their gender or age. 

In shoujo, sometimes the story feels too girlie or teenager and usually, its main plotline about romance. But this is only my narrow opinion, since I haven't following any anime or manga for long time. So I don't know about the development about manga & anime again. And I (unfortunately) not accomplished reading manga in band "LEVEL COMIC" (manga for adults audience, 17+ and over) . Hopefully in the near future I can read the popular manga Attack of The Titan.

Back to Dragon Ball. This Dragon Ball I'm talking about or watch lately is the latest Dragon Ball or a sequel of the Dragon Ball series previously known as Dragon Ball Z. Continued from Dragon Ball Z is Dragon Ball Super. Honestly, I'm not the hardcore fans Dragon Ball. I even don't like fighting genre, I mean I'm neutral about it. There are many times when the episode being too dragged and I end up bored to stay and watch it.

I guess I will not be watching Dragon Ball Super if one of my favorite characters do not appear on the series. Who is my favorite character?

In one of my previous posts about the favorite fictional male charatecs, one of  them is Trunks or futures Trunks from Dragon Ball series. After a long time (perhaps 15 years - in a matter of real time) future Trunks does not appear in Dragon Ball series, suddenly he comes back in the latest sequel of Dragon Ball, Dragon Ball Super namely (DBS). Trunks actual return is similar to the first appearance, which is to ask for help to the past because the future of the world once again attacked by a mysterious enemy.

Well the difference when it first appeared, Trunks status is single, the second time he appears, he have love interest . The problem is, his love interest  is arguably "controversial". The female character who is paired with Trunks by the author, is a character from very first Dragon Ball series. In other words, she is old character which also old in age too.  Her age is much older than Trunks, although already "adjusted" by deaged - altered too young again, using the Dragon Ball. And most fans (especially fans of westerns) feel this relationship is inappropriate/weird, because the age gap is too far. Not to mention, his love interest age even older than his mother himself.

Now, let's talk about Trunks love interest, The female character who becomes love interest for Trunks named Mai. Mai initially appear as a villain  in the style of team rocket in the original Dragon Ball, the type of gag villain (for comedy/humor purpose) and never been real threat villain. After that Mai and her villain companion (also known as Pilaf gang) no longer appear in the sequel of Dragon Ball, or widely popular known as Dragon Ball Z.


Mai
Mai recently re-emerged in the new Dragon Ball Z movie "The Battle of Gods". However her appearance is changed. Instead an adult woman how she used to be, she appears as little pre teen girl. And the romance start from there as a joke.




Kid Trunks suddenly have a crush on kid Mai & ask Mai to pretend to be his girlfirend. That is one the humor or gag in DBZ movie, Battle of Gods. Also in the movie it explains, how Mai become kid or young again actually by using wish from Shenron through Dragon Ball.



Overall fans thought their interaction kind of cute, but not serious. However when the new arc of DBS is announced, there are image of adult (future) Trunks & adult Mai. In other words the ship is sailing, or the pairing become official.

This is where the point, adult Mai have so many haters & many Dragon Ball fans called it the worst shipping ever.

For me personally, I'm neutral about Mai. Her first role as gag villain didn't make me hate her, but I also didn't like her either. Simply because, her character just plain silly & underdevelop. There is nothing special about Mai in original Dragon Ball & in certain point, her character very forgettable.

However, in the future Trunks timeline, Mai's character changed very drastically. She is very serious, kind, selfless, and badass. Rather than become minion of Pilaf, she become leader of the resistance like John Connor in Terminator.

I'm type of person that see chemistry first and background second. For me as along as their chemistry are good, I will support them as OTP. Future Trunks is very popular character among female DB fans, because of his hero persona & bishonen looks.






I like future Trunks & future Mai interaction. Their interaction are about bonding in relationship. Mai support Trunks when he feel down and she also helping him a lot by take care of him when he is injuried, etc. And Trunks also really care for Mai & always worried about her. About the age gap, I already wrote long post on tumblr about it. You can check it here.

Another reason why I like my OTP maybe simply because I just like their character. I don't care if people said they just Gary Stu & Mary Sue. Frankly speaking, I never like those term of Mary Sue or Gary Stu just because the characters are look perfect. Yes, future Mai is lack of background story, because the author is too lazy to write about it. But the good news, fans can write various fanficition about her background.

And I think both Trunks & Mai are demi-sexual (like me). If you wondering what are demi sexual, below are the explanation:

demisexual is a person who does not experience sexual attraction unless they form a strong emotional connection with someone. It's more commonly seen in but by no means confined to romantic relationships. The term demisexual comes from the orientation being "halfway between" sexual and asexual

Sexual partner: Hey, I think you are sexy. *aroused* 
Demisexual partner: I'd have to reach a higher level of emotional intimacy before I could feel the same way. =\ 
Sexual partner: Oh, I see. Well, we can do something enjoyable together. =/ 
Demisexual partner: =D We can bake a cake for now! 
Sexual partner: Sure! That's always fun, although we seem to be doing that a lot. =D 
Demisexual partner: *squeee! bonding time!*

It make me realized, why I never attracted with flirtatious guy, because I'm demi, I need bonding time before I can like someone :D

Actually I wrote this post in Indonesian language, but I don't know what I'm click, then suddenly it change to english, Worst of that, half of my post are missing. But the main things I want to write that I prefer subtle or compassion romance than passionate romance. And romance is better for side plot than main plot,





Selasa, 09 Agustus 2016

Kita

Kau dan aku duduk berdua di kala hujan
Menatap rintik-rintik hujan menghampiri lembut jendela
Aku diam, kau pun diam
Terbuai dalam alunan nada-nada hujan
Kau genggam tanganku
Kusandarkan kepalaku di bahumu
Karena saat ini bukan diriku dan bukan dirimu
Saat ini hanya ada kita
Kita terdiam dalam sunyi senyap hujan
Kurasakan genggaman tanganmu yang semakin mencengkram erat
Wajahmu sendu & lelah
Aku merasakan bebanmu
Kau tetap diam bergeming
Aku memelukmu
Taruhlah sebagian bebanmu bersamaku
Karena ini bukan diriku dan dirimu
Karena ini adalah kita
Kau sedih
Aku menangis
Aku terluka
Kau merasa sakit
Aku tertawa
Kau bahagia
Karena ini adalah tentang kita

Kuharap waktu terhenti

Kuharap waktu terhenti
Tidak ada kepedihan kemarin
Tidak ada kecemasan akan esok
Hanya ada saat ini

Kuharap waktu terhenti
Tidak ada belenggu masa lalu
Tidak ada kekhawatiran masa depan
Hanya menikmati hari ini

Kuharap waktu terhenti
Tak ada bayang-bayang masa lalu menghantui
Tak ada tekanan-tekanan masa depan menghadang
Hanya melalui sekarang

When Shit Happened

Saat kesialan terjadi dalam hidupmu
Pilihanmu hanya dua
Pertama, menerima
Kedua, berusaha mengatasinya
Karena, kau tak bisa menolak kesialan
Meski kau tidak merencanakannya
Mereka akan datang tiba-tiba
Seperti badai di musim semi yang indah
Merusak hari baikmu seketika
Menggagalkan rencana masa depan yang telah kau susun
Kau berharap kau bisa mengulang waktu untuk mencegah kesialan
Tapi waktu tidak bisa kau ulang
Meski kau mengemis pada Tuhan

Minggu, 24 Juli 2016

Karakter-karakter fiktif favorit (male)

Sudah sebulan ini gue kena reading slumps, lebih tepatnya sih bukan malas baca, tapi mood gw lebih ke anime yang sedang gue tonton sekarang.

Begini, dengan jujur gue akui, gue ini author-wannabe. Tapi yah, berhubung sampai sekarang gue belum nulis apa-apa, makanya gue tambahin wannabe. I know it sucks to the max and I ashamed even to call myself as author or writer wannabe since there is nothing I try to write.

Eniwei, untuk posting iseng kali ini mau bahas karakter-karakter fiktif favorit dari buku, video games, anime, komik, dll (kalau ada yang di luar gue sebutin).

Urutan di bawah adalah random.