Kamis, 12 September 2013

WRITING CHALLENGE DAY 12 : SHORT STORY

SHORT STORY

Bisa menulis fiksi adalah salah satu cita-cita saya, tapi mengapa tiap kali ada tantangan menulis fiksi saya justru bingung sendiri. Bingung memlih ide, bingung menyusun plot dan yang terutama bingung mengeksekusi cerita. Belum apa-apa saya sudah ketar ketir soal cerita, terus karakternya, terus konfliknya, terus endingnya, terus bagaimana membuat semuanya terasa klik. 

Dari 14 tantangan di Writing Challenge ada 3 yang sifatnya penulisan fiksi kreatif, yaitu fanfic, love story dan short story. Untuk yang fanfic dan love story saya sudah menyelesaikan tantangannya dengan membuat tema cerita bernuansa romens yang memakai 3rd person POV. Nah untuk kali ini saya mau coba menulis fantasi dengan 1st person POV. Aneh rasanya kalau saya ngaku suka fantasi tapi justru tidak mencoba untuk menulis fantasi. Menurut saya pribadi, menulis fantasi itu termasuk yang tingkat kesulitannya tinggi. Karena meski fantasi, ceritanya tetap harus bisa masuk akal dan membuat pembaca percaya (nyambung).

Iseng-iseng, saya coba buka draft lama saya (iya, saya dulu pernah coba bikin plot suatu cerita fantasi), sepertinya sudah 3 tahun lebih saya tidak menyentuh draft-draft tersebut, iseng-iseng saya coba membaca draft yang pernah saya tulis. Hasilnya? It's totally shit. Saya sama seperti beberapa penulis fantasi lain yang banyak menulis cerita fantasi mereka karena inspirasi dari games. Rata-rata cerita saya seputar kerajaan, perang dan hero's journey.

Cerita-cerita itu belum berbentuk naskah cerita utuh, hanya plot-plot kasar dan saya lebih suka menyebutnya ide. Lucunya saat dibaca lagi ide-ide itu terasa tidak masuk akal sama sekali, terasa sangat dipaksakan. Saya rasa seandainya saya mereview cerita saya sendiri, saya akan membantainya. (sometimes I'm overcritical)

Kadang saya mikir, "Lina, what the heck you've been thinking, wrote some kind of stories like that?" yup itulah reaksi saya saat membaca ulang ide-ide cerita yang pernah saya buat. Mungkin karena sekarang saya sudah lebih tahu banyak mengenai cerita. Buku-buku yang saya baca lebih banyak dan yang terutama karena saya sendiri juga banyak mereview. Karena itu penting banget untuk banyak membaca bagi siapapun yang mau menulis. 

BTW, langsung saja saya post kan link short story yang sudah saya tulis, kali ini saya sangat terlambat menyelesaikan challengenya. Sebenarnya cerpen ini saya maksudkan untuk saya ikut sertakan di lomba 2nd anniversary dari Indo Hunger Games, tapi ternyata telat, karena deadline sudah ditutup.

http://draftnol.wordpress.com/2013/09/12/writing-challenge-day-12-short-story/

Temanya tentang dystopia dan saya sempat mikir lama sekali akan dystopia. Awalnya saya bermaksud membuat dystopia tentang krisis populasi manusia, dan untuk menggantikan manusia yang kosong, bumi banyak dihuni oleh robot-robot android. Ide ini saya dapat setelah saya membaca artikel, bahwa masyarakat Jepang terancam punah dalam beberapa abad kedepan, karena para wanitanya tidak mau mengandung. Tapi akhirnya saya batalkan karena terkesan terlalu grand untuk sebuah cerpen. BTW beda dystopia dan post-apocalypse itu rada tipis kalau kata saya.

Akhirnya saya mengambil tema mengenai krisis energi, mengingat akhir-akhir ini saya sering mendengar keluhan mati lampu dimana-mana. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar