Selasa, 25 Desember 2012

Review Film Animasi



Tahun 2012 ini tidak terlalu banyak film animasi yang saya saksikan, hanya ada empat judul film.
Pertama sekitar bulan Juni 2012, saya nonton Brave film animasi buatan DisneyPixar, lalu sekitar bulan Oktober, saat orang lagi ramai-ramainya nonton Breaking Dawn part 2 pada pekan pertama penayangan film tersebut, saya nonton Wreck-It Ralph film animasi besutan Disney dan sekitar pertengahan November, saya nonton Hotel Transylvania film animasi dari Sony Pictures dan terakhir film animasi yang saya saksikan adalah Rise of The Guardian dari DreamWorks.

Dari keempat film animasi tersebut, saya rasa cuma Wreck-it Ralph yang ceritanya paling mature dan cukup complicated dibanding ketiga film animasi lainnya juga satu-satunya film animasi yang bisa bikin saya ikut merasa sedih. Dan sepertinya Disney mulai memakai penceritaan ala Pixar, dimana villain bukanlah sumber kejahatan utama di film animasinya. Justru sumber masalah umumnya datang dari para tokoh utama dan keadaan sekitar mereka dan villain hanya sekedar penambah emosi atau masalah.

Wreck-It Ralph bercerita mengenai karaker-karakter games arcade, sejenis games yang biasanya ada di tempat ding-dong. Tokoh utama di WIR adalah Ralph, villain utama dari game Fix-It Felix. Dan ternyata meskipun berperan sebagai villain, ternyata Ralph ngga selamanya mau jadi penjahat, dia juga ingin menjadi Hero, disukai dan dihormati oleh para karakter games lain. Dari awal pembuka cerita saja, kita sudah simpati dengan tokoh Ralph, ternyata perannya sebagai villain membuatnya tidak disukai oleh karakter lain dan Ralph seolah terbuang. Ralph tidak pernah merasakan kenyamanan tinggal dalam sebuah rumah seperti tokoh Heronya Felix, dia hanya tinggal di tempat sampah dan cenderung diabaikan oleh karakter lain, dan saat perayaan ulang tahun game Arcade tersebut semua karakter diundang kecuali Ralph. Sampai akhirnya Ralph bertekad bahwa dia bosan menjadi penjahat terus-terusan dan ingin menjadi Hero dengan mengambil sebuah medali.

Selain Ralph, karakter pendukung lain juga bagus, karena Disney bahkan memberi pengembangan karakter pada tokoh-tokoh pembantu, misalnya Felix dengan kehadiran Calhoun dan tentu saja Vanellope. Selain itu penjahatnya juga tidak terduga, dengan kata lain, film WIR berhasil menampilkan cerita yang tidak biasa dengan pengkarakteran yang tidak biasa. Selain itu, karena ini cerita mengenai para karakter games arcade, Disney memanjakan para fans yang kangen akan tokoh-tokoh games arcade terkenal sebab ada banyak bermunculan  karakter-karakter dari franchise games populer, macam Street Fighter, Sonic, Mr Pacman, dll yang menjadi cameo di cerita WIR. Saya mempunyai feeling kalau film ini akan menjadi The Next Toy Story mengingat filmnya sudah dikonfirmasi akan ada sekuel.

Sedangkan film Brave mengambil tema hubungan orang tua dan anak atau lebih tepatnya ibu dan putrinya. Kisahnya mengambil setting Skotlandia di era Highland. Tokoh utamanya bernama Merida, putri dari Raja Fergus, pemimpin klan Dunbroch. Saat Merida sudah dewasa, demi kebesaran kerajaan klan Dunbroch, Merida akan dijodohkan dengan pangeran dari salah satu aliansi kerajaan ayahnya.Tentu saja sebagai remaja berjiwa bebas yang tidak suka dirinya diatur, Merida tidak menyukai rencana tersebut, sedangkan ibunya yang sangat ingin Merida menjadi seorang putri atau Lady sudah mempersiapkan Merida dengan berbagai macam pelajaran dan tata krama yang harus dilakukan wanita pada saat itu.

Merida berusaha mencegah perjodohan terjadi mulai dengan kompetisi panahan karena Merida sangat terampil menggunakan busur dan panah, dan ternyata ketiga pangeran yang mengikuti kompetisi tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan Merida, sehingga menimbulkan kemarahan para Raja atau ayah dari para pangeran tersebut, hal ini membuat ibu Merida, yaitu Elinor gusar dan sangat marah, dalam pertengkarannya dengan Merida, sang ibu membuang benda kesayangan Merida yaitu busurnya yang membuat Merida sangat sedih dan marah hingga akhirnya dia pergi ke hutan dan di hutan dia bertemu dengan seorang penyihir.

Merida meminta si penyihir agar menyihir pikiran ibunya agar bisa berubah mengenai perjodohan tersebut, dan si penyihir pun membuatkan sebuah sihir dalam bentuk kue yang telah dimantrai, di mana kue ini nanti harus diberikan pada ibunya. Merida pun melakukannnya dan ternyata, sihir tersebut memang bisa membuat orang berubah, namun bukan pikiran yang berubah melainkan fisik dan fisik Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam dan fatalnya Merida harus cepat-cepat melakukan sesuatu untuk mematahkan sihir tersebut kalau tidak maka sang ibu akan menjadi beruang selama-lamanya.

Menonton film ini kadang kita berpikir, bahwa hubungan Elinor-Merida mungkin sering kita alami dalam kehidupan nyata yaitu saat orang tua dan kita sering berselisih paham karena perbedaan pendapat. Orang tua menginginkan kita untuk seperti X, bahkan mengatur cita-cita kita, dan lain-lain dengan alasan semua demi kebaikan anak, sementara anak menganggap orang tua otoriter karena selalu memaksakan kehendak.  Ada kalanya sifat keras kepala Merida bikin saya jengkel, terutama saat dia membuat kesepakatan dengan si penyihir untuk mengubah ibunya, kok bisa-bisanya sih Merida ingin menyihir ibunya sendiri, namun tindakan Merida bisa dipahami mengingat dia sendiri tidak tau apa yang dia lakukan dan satu-satunya hal yang diinginkan Merida adalah kebebasan untuk bertindak atas takdirnya sendiri.

Hotel Transylvania bagi saya hanya sekedar oke. Film ini cocok sebagai tontonan untuk film keluarga di hari Hallowen. Hotel Transylvania berkisah mengenai vampire bernama Dracula yang berperan sebagai orang tua tunggal dari Mavis, anak perempuan semata wayangnya. Istri Dracula terbunuh akibat ulah manusia yang mengira mereka adalah monster berbahaya. Sejak saat itu Dracula memutuskan untuk tinggal di suatu tempat yang aman dan jauh dari manusia agar putrinya bisa tumbuh besar dengan aman, maka dia pun membangun rumah yang juga adalah sebuah hotel yang juga dimaksudkan agar para monster dapat singgah untuk berlibur tanpa takut diusik kehadiran manusia.

Film HT mengusung tema standar, mengenai ayah yang tidak siap untuk melihat putrinya tumbuh dewasa, jatuh cinta, menikah dan akhirnya pergi meninggalkan dirinya. Dracula di film HT ini sangat manis dan baik hati  alih-alih menakuti manusia, Dracula justru takut dengan kehadiran manusia :D
Karena itu boleh dibilang betapa Dracula sangat panik saat tau ada seorang manusia yaitu backpacker bernama Jonathan yang berhasil menemukan hotelnya dan ini diperparah ketika mengetahui bahwa Mavis, anaknya ternyata menyukai dan jatuh cinta dengan pemuda tersebut.

Sayangnya saya merasa karakter-karakter di HT cenderung datar dan one dimensional, macam Dracula, Mavis maupun Jonathan, dan justru karakter yang saya kurang suka kok manusianya yah? Saya kurang suka sama karakter Jonathan yang menurut saya cenderung annoying, berisik dan juga party lover mugnkin karena dia masih muda dan berjiawa bebas :D

Terakhir film animasi yang saya saksikan adalah Rise of The Guardian atau selanjutnya akan saya singkat ROTG. Bila HT mengingatkan kita akan nuansa Hallowen maka ROTG adalah film yang sangat bernuansa Natal, mulai dari tokoh North yang lebih dikenal sebagai Sinterklas, lalu tema musim dingin dalam film yang juga merupakan bagian dari tokoh utama film ini yaitu Jack Frost. Selain itu ada karakter Bunny si kelinci Paskah dan Tooth alias si Peri Gigi juga Sandy si manusia pasir. Mungkin cuma tokoh Sandy yang kita tidak kenal.

Tema di ROTG mengenai kepercayaan akan roh-roh atau disini sebutannya Guardian dari pelindung akan mimpi & imajinasi anak-anak, mungkin rada rumit penjelasan saya, intinya banyak anak yang percaya akan Sinterklas saat Natal, Peri Gigi yang akan menukar gigi mereka dengan uang bagi setiap anak yang giginya copot dan menaruhnya di bawah bantal juga kelinci Paskah yang suka menaruh telur-telur saat perayaan Paskah. Dan tugas para Guardian ini adalah menjaga anak-anak agar tetap percaya dengan impian, imajinasi dan harapan mereka (eh kok mirip sama tagline blog geje yah). Hanya saja tugas para Guardian tersebut mendapat hambatan dari Pitch, roh jahat yang suka menebar mimpi buruk untuk anak-anak.

ROTG sendiri lebih mengisahkan mengenai karakter Jack Frost, mengenai asal usul dan masa lalunya juga apa yang membuatnya dipilih sebagai salah satu Guardian pelindung imajinasi, mimpi dan harapan anak-anak.  Jadi bokleh dibilang ROTG ini mungkin cocok dapat judul ROTG : The Legend of Jack Fros. Cerita dalam Jack Frost sendiri sangat linear, tidak ada twist dan kejutan sehingga boleh dibilang film ini murni ditujukan untuk anak-anak sebagai film Natal mereka. Satu hal yang saya suka ada Voice Actors dalam ROTG sangat klik dengan para karakter dalam film ini. Chris Pine sukses membawa suaranya yang tampan untuk menjadi pesona dalam diri Jack Frost, saya tidak heran kalau dibanding beberapa karakter film animasi yang sudah tampil terlebih dahulu, Jack Frost  tampaknya akan menjadi yang paling populer dan punya banyak fans.

~Aryn~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar