Senin, 03 November 2014

MALAYSIA: SEBUAH PELAJARAN BERHARGA UNTUK LEBIH BERPARTISIPASI MERENCANAKAN TRAVEL ITINERARY

Akhirnya hari itu datang juga, hari di mana saya akan kembali menggunakan paspor saya yang jarang dipakai itu. Berpergian ke luar Jakarta atau luar negeri adalah hal yang jarang bagi saya. Selain masalah budget, kendala lain juga ada di masalah waktu mengingat saya selalu bekerja di tempat yang pelit cuti. 

Adik saya membooking tiket ke Malaysia ini sudah sejak jauh-jauh hari. Mungkin sudah sejal bulan Maret atau awal tahun 2014 dan baru berangkat bulan Oktober. Sebenarnya saya tidak nyaman dengan booking tiket yang terlalu lama semacam itu, tapi sudahlah, saya sama sekali tidak terlibat dalam proses booking tiket ataupun pemesanan hotel, pokoknya saya hanya terima jadi.

Pesawat saya berangkat hari Sabtu sore sekitar jam 5 menuju Penang. Adik saya tidak memberi tahu kalau tiket promo yang dibookingnya ada batasan bagasi yang sangat terbatas. Dia hanya berpesan supaya "tidak bawa barang banyak-banyak" alih-alih menjelaskan lebih detil. Jadi saat tiba di bandara sempat ada drama masalah overweight bagasi dan ini gara-gara di koper ada 3 botol air minum Aqua seukuran 600 mili. Kenapa bisa ada botol minum di koper karena papa saya ikut campur dengan meminta saya membawa air minum karena air minum di sana mahal katanya. (Sumpah deh, saya juga bego nurut saja, padahal Malaysia itu masih termasuk negara yang murah dalam soal makanan, lain dengan Singapura). Akibatnya bukan tambah murah malah mahal karena ada extra charge utnuk tambahan bagasi. Adik, mama dan saya saling menyalahkan gara-gara masalah extra charge ini. Sejujurnya baru kali ini saya naik penerbangan low fare.

Senin, 05 Mei 2014

POST FOR 1ST GIVEAWAY: GETTING TO KNOW YOU

Postingan ini dibuat dalam rangka 1st Giveaway: Getting to Know You yaitu giveaway dari blog buku Indah's Books Dreamland.

Pertama mau ucapin Selamat Ulang Tahun dulu untuk Indah's Books Dreamland, yang pasti lagi dalam masa lucu-lucunya, eh salah, maksud saya yang sukses terus diupdate selama setahun ini, semoga terus berlanjut dan lanjut.

Langsung saja yah:

Pertanyaan termudah (5 random facts about you)

Minggu, 29 Desember 2013

Lelah

Saat emosi yang kau punya hanya rasa marah
Saat itulah lelah kau rasakan

Saat emosi yang kau punya hanya rasa pahit
Saat itulah lelah kau rasakan

Saat emosi yang kau punya hanya rasa sedih
Saat itulah sepi kau rasakan

Saat hatimu hanya ada rasa sepi
Saat itulah putus asa kau rasakan




Apa Itu Rasa Bahagia

Aku selalu penasaran apa itu rasa bahagia?
Aku hanya bisa membayangkan rasa bahagia itu seperti rasa aman
Di mana aku tak perlu khawatir
Tak perlu cemas
akan apapun

Menjalani hari-hari dengan rasa nyaman
Tertawa lepas tanpa beban
Tanpa rasa takut
akan apapun

Rasa bahagia di manakah engkau?


Saat Pekerjaan Hanya Sekedar Untuk Uang

Sudah sebulan, saya bekerja di tempat baru. Dan selama sebulan itulah saya tidak merasakan kerasan sama sekali. Baik dari segi pekerjaan maupun dari segi lingkungan. Saya tidak suka keduanya. Hanya satu yang bikin saya bertahan, yaitu duit. Tapi uang pun tidak bisa membeli diri saya seutuhnya. Saya benci pekerjaan saya, tapi mencoba bertahan karena belum dapat pekerjaan baru. 

Lingkungan dan suasana tempat baru pun tidak menunjang. Sudah satu bulan, tapi saya tidak menemukan seorang co-worker yang menurut saya bisa berpotensi menjadi teman saya. Mereka rata-rata orang lama di sana, jadi bagi mereka, saya hanya orang baru yang sombong dan tidak mau membaur. Saya tidak salahkan pandangan mereka, karena saya memang bersikap seperti itu. Mereka tipe penggosip, sementara saya tidak. Mereka nyablak, saya cenderung pendiam. Saya adalah tipe yang  bila saya tidak nyaman dengan lingkungan atau seseorang, maka saya tidak akan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat)

Dan saya lelah terus diceramahi, kalau saya harus berubah. Saya harus berbaur dan membuka diri. Tapi saya bingung, bagaimana caranya membuka diri, sementara saya tidak nyambung dengan apa yang mereka bicarakan. Saya tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Saya curiga, kalau saya punya sindrom Asperger, karena sifat saya yang suka menyendiri. 

Suasana bekerja yang terlalu serius dan kaku, sifat pekerjaan yang selalu diburu-buru seolah semakin menambah daftar panjang bahwa saya tidak cocok bekerja di sana. Tapi mau berhenti pun, tidak bisa karena keluarga saya bukanlah yang berkelimpahan, keluarga saya hanya berkecukupan. 

Saya sudah tidak peduli lagi apa kata orang tentang saya, bahkan ada kalanya saat saya sedang depresi akut, saya tidak peduli akan kehidupan dan sempat melintas dalam benak saya, bahwa akan lebih mudah bagi keluarga saya bila saya tidak ada. Tidak ada beban yang harus mereka khawatirkan akan masa depan saya. Tidak perlu khawatir siapa yang menjaga saya kelak bila orang tua sudah tidak ada. Adik saya bisa tenang, karena tidak perlu takut dibebani akan merawat saya seperti yang selama ini ia khawatirkan. Satu-satunya beban saya, adalah buku-buku saya yang belum saya baca. Buku? Iya buku. Mungkin untuk sementara saya stop menambah timbunan, sampai saya bisa menyelesaikan minimal seperempatnya. 

Saya merasa seperti hidup di dua dunia. Satu dunia penjara yang bernama pekerjaan dan kantor. Satu lagi dunia blog yang seperti kebebasan. Rumah pun bagi saya sering tidak terasa seperti rumah. Hanya sekedar tempat untuk numpang tidur. Seandainya bisa, saya ingin merantau. Mungkin itu yang terbaik untuk saya. Jauh dari semua orang yang mengkungkung saya, termasuk keluarga. Pernah dengarkan, kalau kau akan merasa butuh dan kangen pada seseorang saat mereka jauh darimu?

Sejujurnya, saya merasa kehidupan yang telah saya jalani adalah kegagalan. Umur saya sudah tidak muda lagi untuk mengulang sesuatu. Bahkan untuk belajar sesuatu yang baru juga rasanya mungkin kemampuan otak saya sudah tidak seperti dulu lagi. Saya cepat lupa sekarang dan cenderung absent minded.

Malam Natal saja di kantor full day, bahkan saat ini menjelang pergantian tahun, saya tidak merasakan suasana pergantian tahun atau malam tahun baru. Saya stress, tubuh saya pun ikut bereaksi atas stress saya, mulai dari keputihan yang terus menerus dan sakit kepala yang tak kunjung hilang. Mau pergi bekerja tapi rasanya selalu menakutkan seperti akan disiksa selama seharian. Jam kerja yang panjang, salah satu yang bikin saya tidak betah, tapi bukan masalah itu, karena yang terutama saya tak suka apa yang saya kerjakan. Terlalu banyak pengaturan, terlalu banyak peraturan.

Saya lelah, lelah akan segala sesuatunya dan saya depresi karena saya sampai pada suatu titik di mana saya merasa berada pada dasar paling dalam dari suatu lubang dan tidak ada seorang pun yang mau menjulrkan tali pada saya untuk membantu saya naik. Semua hanya melihat kepada saya dengan prihatin dan berkata, "Ayo naik," tapi tidak bilang bagaimana cara naiknya.

Tampaknya mungkin saya akan seperti taruhan mereka, karyawan baru yang tidak mampu bertahan di kursi panas. Yah, sudah ada 3 orang yang di posisi saya dan tidak betah. 

Senin, 16 Desember 2013

Ayo Ciptakan Hubungan Harmonis Dalam Dunia Giveaway

Apa yang membuat saya tertarik membahas tentang GA? Karena akhir-akhir ini saya banyak mendengar keluhan seputar giveaway. Lucunya yang mengeluh itu ada host GA (penyelenggara) dan juga pemenang GA. Lha penyelenggara dan pemenang sama-sama mengeluh? Ada gerangan apa?


Jadi saya mencoba untuk membahas giveaway dari 3 sudut pandang supaya adil, yaitu:
  1. Giveaway Host alias penyelenggara GA atau pihak pemberi hadiah
  2. Peserta giveaway, mereka yang mengikuti GA
  3. Pemenang giveaway.
Dan saya berani membahas 3 sudut pandang tersebut, karena saya sendiri pernah merasakan ketiganya. Saya mulai dari :

Untuk Giveaway Host

Apapun tujuan host dalam melaksanakan giveaway baik itu sekedar promosi blog, promosi produk, atau memang niatan amal, pastikan selalu jelas, terperinci,  dan tentu saja komitmen dalam menepati janjinya.

Jelas dalam membuat aturan giveaway. Yang terutama seperti macam periode giveaway, kapan pengumuman pemenang, siapa saja yang bisa ikut giveaway (apakah hanya domisili tertentu atau bukan), bagaimana cara pemenang dipilih (random/subjektif). Itu adalah beberapa point yang terutama harus dijelaskan oleh host dan aturan lain terserah host. 

Terperinci. Jelaskan setiap aturan main dengan detil dan runut. Kasih contoh bila perlu. Misal, untuk kategori pertanyaan, contoh jawaban harus bagaimana, apabila syaratnya harus share GA di sosmed, kalau perlu kasih contoh juga. Lalu hadiah yang diterima, misal bila hadiahnya ada 5 macam, jelaskan juga apa 5 hadiah ini untuk 1 orang pemenang atau 5 orang pemenang dapat masing-masing 1 hadiah. Hal ini untuk mencegah kesalahpahaman di kemudian hari. Pokoknya jelaskan semuanya dengan detil.

Komitmen. Janji dibuat untuk ditepati.  Apabila pemenang sudah ditentukan, selain diumumkan via blog atau wadah apapun yang dipakai oleh penyelenggara, menurut saya, akan lebih baik bila host juga menghubungi pemenang secara pribadi. Apakah via email atau mention twitter atau tag facebook, atau lain-lain. Pokoknya ada pemberitahuan langsung  dari host ke pihak pemenang. Karena bisa saja pemenangnya lagi sibuk dan lupa kalau dia harus lihat pengumuman GA. Jadi biarlah host yang menghubungi langsung pemenang.

Komitmen soal hadiah. Sesibuk apapun host giveaway tapi saat pemenang sudah diumumkan, tetap harus meluangkan waktu untuk mengirim hadiahnya ke pemenang. Seandainya host sedang ada masalah atau urusan keluarga, ada baiknya menjelaskan kepada pemenang mengenai situasinya jadi pemenang tahu kalau hadiah akan terlambat dikirim. Pokoknya biarpun lama, tapi janji tetap janji dan harus ditepati. 

Untuk Peserta Giveaway. 

Jangan Malas baca peraturan. Sebagai peserta giveaway, saat melihat pengumuman giveaway, jangan hanya hadiahnya saja yang dilihat, tapi aturannya tidak dibaca. Ini jujur saja, sangat bikin jengkel host giveaway. Misal jelas-jelas sudah disebutkan kapan pemenang diumumkan, masih saja tanya. Saya rasa membaca peraturan giveaway itu tidak sampai 5 menit, apa susahnya membaca baik-baik. Saya pernah mengadakan GA kuteks (nail polish) yang dalam aturannya jelas hanya peserta jabodetabek saja yang ikut, karena benda cair tidak diijinkan oleh JNE/tiki. Tapi ternyata peserta dari luar kota lebih banyak dibanding yang dalam jabodetabek sendiri. Ini agak bikin kecewa saya. 

Taat dan turuti peraturan giveaway dengan jujur. Misal ada aturan harus share, maka jangan lupa share. Harus menjawab dengan format a dan b, maka jangan menjawab dengan format c dan d. Apabila host menjanjikan maximal hadiah hanya senilai total Rp 100.000 atau 10 USD, maka jangan meminta yang Rp150.000 atau 120 USD.

Masih belum jelas? Tanyakan pada host, saya yakin selama pertanyaannya memang karena host tidak memberi penjelasan rinci, pasti host akan membantu.

Saya menang atau tidak? Balik ke Jangan malas baca peraturan. Biasanya pemenang suka dihubungi langsung oleh host, namun apabila ingin lebih yakin, kalau perlu catat tanggal kapan pengumuman akan dibacakan dan langsung lihat sendiri, apa kamu menang atau tidak. Karena host tidak menghubungi peserta yang tidak menang. Biasanya host hanya menghubungi peserta yang menang. Jadi kalau merasa tidak dapat notifikasi apapun, kemungkinan besar, bukan kamu pemenangnya. Heheheh

Untuk Pemenang Giveaway.

Hore, selamat, kamu menang. Nah, sekarang tinggal menerima hadiah, saran saya satu, menunggu dengan manis. Lho apa maksudnya menunggu dengan manis? 

Jangan menawar hadiah. Sudah bagus bisa menang, bersyukurlah akan itu. Seandainya kamu tidak puas dengan hadiahnya, mengapa kamu ikut giveawaynya? Misal hadiahnya adalah voucher untuk bisa berbelanja di toko A. Maka jangan nawar untuk ditukar di dengan voucher toko B. Karena itu artinya kamu tidak menghargai kemenanganmu dan host GA. Kalau memang tidak tertarik untuk berbelanja di toko A, maka tidak usah ikuti GA-nya.

Jangan protes berlebihan dengan mencari perhatian di sosial media. Apabila kamu merasa hadiah yang kamun terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh host. Pertama-tama, kamu tanyakan kepada host dulu. Jangan langsung bercuap-cuap di sosmed. Dan yang terpenting, kamu cek dulu, apa kamu sudah jelas membaca mengenai hadiahnya. Apabila sudah mendapat penjelasan dari host, maka terimalah hadiah dengan lapang dada, walau mungkin tidak sesuai harapan. Mengapa tidak boleh protes? Kan saya sudah capek-capek meluangkan waktu dan tenaga untuk ikut GA? Karena GA itu sifatnya untung-untungan, kamu bukan membeli barang, yang kalau tidak sesuai bisa kamu protes karena kamu sudah bayar. Dalam GA, kamu itu dapat gratis. Peserta lain pun sama-sama sudah berusaha tapi tidak menang. Dan mereka tidak memprotes ketidak-menangan mereka, jadi mengapa kamu yang sudah menang masih protes? Syukurilah apapun hadiahnya, dan kalau masih tidak puas, ikuti GA lain yang menjanjikan hadiah lebih dasyat.

Jangan memburu-buru host soal hadiah. Ini terkait dengan point GA host di atas. Kita tidak tahu, apakah host sedang sibuk, ada urusan dan masalah keluarga, atau sakit? Kita tidak tahu. Saran saya, tunggu selama 2 minggu dahulu, bila belum ada kiriman hadiah, tanyakan secara baik-baik kepada host, apakah hadiah sudah dikirim? Bila host belum memberi jawaban, tunggu 1 bulan lalu tanyakan lagi. Pokoknya bersabar saja, dan terus ikuti GA lain. Lho, jadi saya terima saja di PHP githu? Seperti yang saya bilang GA itu kan untung-untungan, kamu juga tidak rugi apa-apakan kalau tidak menang GA, jadi anggap saja kalau hadiahnya lama belum dikirim berarti belum rejekimu untuk menerima hadiah tersebut. Karena seperti yang saya tulis, kita tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan host GA, bisa jadi mereka sedang kena musibah. Lagipula GA kan tidak hanya 1, kalau gagal menerima hadiah meski menang, anggap saja tidak menang dan ikuti GA lain. Tidak usah menjelek-jelekkan host di sosial media, karena jangan sampai karena emosi, kesempatanmu untuk menang GA lain jadi hilang, karena kamu sudah dicap secara jelek oleh para GA host sebagai pemenang GA yang merepotkan.

Saya tidak ada maksud apa-apa sih soal pembahasan GA ini. Tulisan ini hanya sekedar pembelajaran, karena jangan sampai sesuatu yang seharusnya menyenangkan justru jadi berbuntut tidak enak. 

Terus bagaimana kalau sama sekali belum pernah menang GA seumur hidup? Hehehe, saya cuma bisa bilang, terus mencoba, segala sesuatu ada saat pertamanya. Saya juga jarang menang GA, tapi kalau terus mencoba dan tidak pustus asa, pasti dari 100X kesempatan, ada 1 yang nyantol, selama kamu usaha. 


Minggu, 20 Oktober 2013

Pelajaran Berharga Seharga 500K

Mengapa ada orang yang sampai hati tega menipu saya? Apa salah saya sampai dia menipu saya? Begitulah yang sering terpikir di otak saya, saat saya lagi bengong. Dan tentu saja penyesalan saya akan kebodohan saya yang lebih menggunakan hati daripada otak. 

Jadi ceritanya begini. Suatu hari saya menerima panggilan interview dari, katakan saja PT XXX.TBK, saya ingat, disuruh datang untuk psikotes dan interview pada hari Selasa tanggal 8 Oktober 2013. Singkat cerita, saya pun hadir pada hari dan jam yang telah dijadwalkan. Perusahaan tersebut termasuk elite, mungkin salah satu dari 10 perusahaan besar di Indonesia yang produknya meliputi minyak sayur, tissue air minum, asuransi, properti, dll. Jumlah karyawannya saja ribuan. Yang psikotes bukan saya saja, tapi banyak ada 18 orang untuk divisi yang berbeda-beda. Nah setelah psikotes selesai, pihak HRD memanggil kami untuk langsung interview dengan user kami masing-masing. User di sini adalah divisi yang kami lamar. Nah dari selesai psikotes ada jeda waktu sebelum kami menghadap pihak user untuk interview. Pihak HRD menyarankan kami menggunakan jeda waktu ini untuk istirahat dan makan siang. 

Ternyata untuk bagian saya, ada 5 peserta yang dipanggil (berarti 4 pesaing untuk saya, tapi bukan itu yang mau saya bahas). Singkat kata, saya berkenalan dengan 4 orang peserta. Dua laki-laki dan dua perempuan. Satu orang perempuan dan satu orang laki-laki hanya berkenalan sesaat dan langsung melesat pergi entah kemana. Sedangkan satu orang perempuan lagi sangat ramah. Dia mengajak saya dan satu peserta laki-laki yang lain untuk makan siang bersama. 

Kami pun memilih untuk makan siang di resto terdekat dengan gedung PT tersebut, yaitu restoran Padang. Selama makan siang kami ngobrol-ngobrol. Dari pembicaraan singkat tersebut, saya tahu kalau perempuan ramah ini adalah pengantin baru. Dia baru menikah bulan Maret 2013, belum punya anak dan suaminya seorang pendeta HKBP yang sedang kuliah S2. Oke singkat cerita, selesai makan siang kami pun bersiap kembali ke kantor tempat user akan mewawancarai kami. 

Wawancara berlangsung lama, setiap orang rasanya diwawancara nyaris 1 jam dan saya urutan ke-4. Jadi bayangkan saya harus tunggu 3 jam sampai giliran saya tiba, tapi yah ini tidak masalah dan saya tidak keberatan, selain karena memang itu sudah bagian dari resiko saya sebagai pelamar dan juga hak pewawancara karena itu berarti pewawancara kami sabar dan detil.

Karena waktu tunggu yang lama, saya dan 3 orang peserta mengisi keguguban kami dengan saling mengobrol. Kami juga saling menukar PIN BB. Saya persingkat saja, akhirnya tibalah giliran saya dan setelah nyaris 1 jam maka saya pun selesai dan langsung pulang karena memang hari sudah sore, jam 16.30. Perempuan ramah yang tadi makan siang bersama saya kebetulan mendapat giliran nomor 3 atau tepat sebelum saya dan dia tentunya sudah langsung pulang karena wawancaranya sudah selesai lebih dahulu. Tapi dia masih menghubungi saya dan tanya-tanya macam, "bagaimana wawancaranya? ditanya apa saja? semoga sukses ya, jadi kita bisa sama-sama diterima dan kerja bareng."

Si perempuan ramah ini, keesokan harinya masih tanya-tanya saya. Bukan soal wawancara, tapi macam-macam hal. Mulai dari film apa yang sedang diputar di bioskop, trus apa sudah ada panggilan lagi, macam-macam deh. Selanjutnya setiap hari dia selalu BBM saya dan berbicara hal-hal remeh seputar ini dan itu. 

Sampai pada hari Rabu tanggal 16 Oktober, dia PING saya di BBM, katanya urgent, dia butuh bayar cicilan rumah Rp1.500.000 karena hari itu adalah hari terakhir, kalau telat akan kena denda. Dia ada uang cash tapi dana bank sedang kosong. Hari itu, dia sedang tidak enak badan dan jarak bank dan rumah jauh, dia sendirian karena katanya, suaminya lagi pelayanan di pedalaman dan HPnya nggak aktif karena sinyalnya tidak ada. Susah dihubungi deh dan suaminya baru balik hari Sabtu. Jadi dia mau pinjam saya Rp1.500.000 untuk bayar cicilan rumah. Saya tanya, apa tidak bisa minta tolong keluarga? dia beralasan kalau dia tidak mau sampai pihak keluarganya khawatir, jadi lebih memilih pinjam sama teman. 

Dia terus mohon-mohon dan janji hari Jumat atau 2 hari dari dia pinjam akan langsung diganti. Dari sini batin saya berperang antara percaya atau tidak. Saya coba search di google dan menemukan fb-nya. Dari sana saya cek fb-nya dan menemukan foto-foto dia. Tidak ada yang aneh di fb-nya. Foto-foto itu standar foto-foto yang sering diunggah ke facebook. Foto sama teman-temannya, foto-foto pernikahannya di sebuah gereja bersama suaminya dan keluarga besarnya, lalu foto-foto bersama orang tuanya. Sejauh ini saya lihat tampaknya keterangan dia benar. Tapi akal sehat saya masih berkonflik, saya tidak bisa kasih sejumlah yang dia minta, terlalu banyak, bagaimana kalau dia bohong. Akhirnya saya putuskan Rp 500.000 saja. Transaksi dilakukan pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 2013.

Si perempuan ramah ini sangat senang dan berterimakasih. Dia juga tanya berapa nomor rekening saya biar bisa ditransfer balik. Sesudah itu tidak ada yang aneh, dia masih sering BBM saya dan bertanya hal-hal remeh. Sewaktu hari Sabtu siang, saya kembali BBM dia dan tagih hutangnya, dengan alasan saya butuh uang dan alasan saya memang benar adanya. Dan dia sendiri pernah bilang kalau hari Sabtu, sang suami akan balik. Jadi saya langsung tagih, karena saya tidak mau lama-lama dihutangin. Dia hanya membalas, "oke."

Hingga Sabtu malam, tidak ada yang aneh. Lalu Minggu sore, saya kaget saat lihat namanya sudah tidak ada dalam contact BBM saya. Tubuh saya langsung dingin, hati saya langsung berdebar-debar. Lalu saya coba lihat nomor whatsapps nya. Ada yang aneh, mendadak profile fotonya hilang, lalu saya  langsung menghubungi nomor tersebut, namun jawabannya hanya, "Maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area." Saya langsung lemas, tapi saya masih berpikir positif. Kok bisa? Yah, saya sempat berpikir, apa mungkin ada sesuatu dengan HP-nya? Mungkin handphonenya hilang atau ada gangguan. Sepertinya harapan saya lebih karena hati kecil saya masih menolak bahwa saya bodoh dan saya telah tertipu.

Saya mencoba menghubungi salah satu pelamar lain yang ikut psikotes juga, laki-laki, karena waktu itu kami kan sempat tukar nomor PIN BB. Saya bertanya padanya, apakah dia punya nomor PIN si wanita ramah ini? mulanya dia jawab ,"ada, tunggu sebentar," lalu semenit kemudian dia kembali BBM saya dan menjawab, "nggak ada, di delcon (delete contact)."

Saya coba cari akal, lalu saya ingat facebook. Facebooknya masih ada. Saya coba kirim pesan via facebook, saya tidak langsung tuduh dia, saya tanyakan baik-baik, "mengapa contact saya di BB di delete? dan saya sangat butuh uang, bisa segera dilunasi." Saya juga tinggalkan nomor handphone saya, seandainya saja dia memang kehilangan handphone.

Satu jam saya tunggu, sambil coba menenangkan, diri saya coba melakukan hal lain. Saya cek facebook saya dan tidak ada pesan masuk. Lalu saya cek facebook si wanita ramah ini dan HILANG. Kalimat dalam facebook tersebut adalah, This page isn't available. The link might be broken or the page may have been removed. Anda bisa coba sendiri. Padahal 1 jam yang lalu masih ada page fb-nya, namun setelah saya berkirim pesan langsung hilang. Seandainya handphone yang hilang, biasanya hanya nomor yang tidak bisa dihubungi. Resmi sudah. Dia menipu saya.

Perasaan saya campur aduk, marah, sedih, kecewa, dan paranoid. Marah bisa saya atasi, walaupun kemarahan saya di sini saya tujukan pada diri sendiri, karena saya begitu bodoh dan tolol, bisa-bisanya saya percaya sama orang asing hanya karena kesan baik. Sedih? pasti. Siapa yang tidak sedih kalau uangnya hilang. Tapi saya coba ikhlaskan dan tidak mau PHP. Saya anggap saya berulang tahun dan mentraktir teman-teman saya. Saya juga berpikir, apakah ini teguran Tuhan? mungkin saya kurang amal? Tidak bukan salah Tuhan, karena saya sudah dikasih otak untuk berpikir. Saya lebih berpikir, ini pelajaran agar kedepannya saya tidak segampang itu percaya orang.

Kecewa? jelas, siapapun pasti kecewa kalau dimanfaatkan dan ditipu, hanya saja saya coba ambil pelajaran untuk lebih waspada dan berhati-hati dan heartless. Tapi perasaan yang paling tidak enak adalah paranoid. Saya jadi takut sendiri dengan setiap orang yang tidak saya kenal. Marah, sedih dan kecewa bisa saya atasi, tapi paranoid, tidak terduga. Paranoid juga bisa bikin sakit.

O ya, dari tadi saya hanya sebut dia si wanita ramah, tapi namanya adalah :

Riris Tuti Sri Handayani Hutahaean. Tidak gampang bagi saya untuk memutuskan menuliskan ini di blog, mengingat bagi saya hal ini hanya membuat saya terlihat bodoh dan saya tidak suka mengungkap kejelekan seseorang. Tapi setiap manusia bisa berbuat kesalahan dan ini sudah merugikan. Saya putuskan lebih baik saya sharing, karena seandainya anda yang membaca ini, berkenalan dengan orang yang namanya tertera dalam receipt tersebut, anda bisa ekstra hati-hati agar tidak mengalami kejadian seperti saya. Saya tidak tahu apakah ada nama lain. 

Sedikit cerita baik sebelum saya tutup. Ada orang asing yang baik juga. Pernah BB saya tertinggal di sebuah foodcourt mal, lalu seorang anak kecil (entah disuruh ortunya atau inisiatif sendiri) mengejar dan menghampiri saya sambil mengembalikan BB saya yang tertinggal. Sayangnya sangat langka yang seperti itu.

Mungkin sekarang pertanyaannya ganti bukan apa salah saya (karena saya sudah iklaskan) tapi apa yang ada dalam pikiran mereka yang suka menipu orang lain saat mereka melakukannya?